Garuda Menjelma dalam Tenun Mickael Nana dan Beatrice Angelica Garuda tidak selalu harus hadir melalui gambar burung dengan sayap terbentang, paruh tajam, dan cakar yang mencengkeram. Dalam koleksi busana karya Mickael Nana dan Beatrice Angelica, sosok tersebut tampil melalui bahu lebar, lapisan kain, tenun Lombok, warna bumi, serta potongan yang mempertemukan ketegasan jahitan Prancis dengan keluwesan cara berbusana Nusantara.
Koleksi bertajuk “Garuda” itu diperkenalkan pada BRI JF3 Fashion Festival 2026 di JF3 Fashion Tent, Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta, pada 23 Juli 2026. Karya tersebut hadir dalam sesi desainer Prancis bersama peserta PINTU Residency Programme, program kerja sama mode yang mempertemukan kreator Indonesia dan Prancis.
Mickael “Marlon” Nana, pendiri label MARLON NANA, bekerja bersama Beatrice Angelica, pendiri NOEN. Keduanya menghasilkan sepuluh tampilan siap pakai yang terbagi menjadi lima busana pria dan lima busana perempuan. Garuda tidak diterjemahkan sebagai kostum upacara, melainkan sebagai susunan pakaian yang tetap dapat dipakai, dilapis, dan dipadukan dalam keseharian.
Garuda Tidak Ditampilkan secara Harfiah
Pilihan untuk tidak menggambar Garuda secara langsung membuat koleksi ini terasa lebih tenang. Identitas burung tersebut dibangun melalui proporsi tubuh yang kuat, penggunaan motif pada kain, dan gerakan busana saat dikenakan model.
Bahu yang diperlebar memberi kesan seperti rentang sayap. Jaket berstruktur menciptakan tubuh bagian atas yang tegas, sementara celana longgar, kain jatuh, serta teknik lilit menghadirkan gerakan yang lebih bebas pada tubuh bagian bawah. Susunan tersebut membuat kekuatan dan kelembutan berada dalam satu tampilan.
Nama Garuda juga berkaitan dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Koleksi ini mempertemukan bahan, teknik, dan kebiasaan berpakaian dari dua wilayah tanpa memaksa salah satunya menghilang. Jahitan Prancis tidak menutupi tenun Indonesia, sedangkan wastra tidak diperlakukan sebagai hiasan tambahan yang ditempelkan setelah pola busana selesai.
“Kekuatan koleksi Garuda terletak pada keberaniannya menahan diri. Simbol negara tidak dipindahkan begitu saja ke permukaan pakaian, tetapi diterjemahkan melalui proporsi, tekstur, dan cara kain membentuk tubuh.”
Foto Arsip Menjadi Titik Awal Rancangan
Mickael Nana dan Beatrice Angelica mengambil inspirasi dari foto arsip Indonesia pada akhir abad ke 19 hingga awal abad ke 20. Foto tersebut memperlihatkan masyarakat Nusantara mengenakan kain tradisional berdampingan dengan pakaian bergaya Eropa.
Pertemuan dua cara berpakaian itu sebenarnya telah berlangsung sejak lama. Jas, kemeja, rok, kain lilit, penutup kepala, serta tekstil lokal pernah muncul dalam satu ruang sosial. Para desainer kemudian mengolah kembali pertemuan tersebut melalui pakaian siap pakai yang lebih dekat dengan selera saat ini.
Teknik draping dan kain berbalut tubuh diambil dari kebiasaan berpakaian Indonesia. Unsur tersebut dipertemukan dengan tailoring Eropa era 1970an dan 1980an yang dikenal melalui bahu kokoh, garis jaket jelas, serta celana yang memberikan ruang gerak lebih luas.
Hasilnya tidak terlihat seperti rekonstruksi pakaian lama. Referensi sejarah dipakai sebagai dasar untuk membangun bentuk baru. Hal itu terlihat pada jaket yang tetap mempunyai struktur, tetapi permukaannya diberi lapisan tenun, bordir, atau tekstur yang memecah kesan formal.
Musik Membantu Membentuk Arah Visual
Referensi koleksi tidak hanya berasal dari arsip pakaian. Gaya Lenny Kravitz, Erykah Badu, dan Lauryn Hill ikut memengaruhi tampilan Garuda. Ketiganya dikenal kerap memakai busana dengan lapisan kuat, aksesori mencolok, kain bertekstur, dan percampuran unsur budaya.
Pengaruh tersebut terlihat pada keberanian memainkan volume. Busana pria tidak dibuat sempit atau terlalu formal. Busana perempuan juga tidak hanya mengandalkan siluet yang mengikuti lekuk tubuh. Keduanya diberi ruang melalui mantel panjang, bahu besar, celana lebar, dan tekstur yang terlihat berat.
Pilihan referensi musik memberi koleksi ini sikap yang lebih santai dibandingkan tailoring klasik. Jas tidak selalu harus dipadukan dengan celana resmi. Tenun dapat berada di atas denim, sementara beludru dan rajut dapat bertemu dalam satu susunan tanpa kehilangan ketegasan.
Garuda kemudian terasa sebagai pakaian untuk individu yang percaya diri, bukan sekadar koleksi yang hanya menarik ketika berada di atas panggung. Ada unsur pertunjukan, tetapi tetap tersedia kemungkinan untuk memisahkan jaket, celana, mantel, atau aksesori menjadi busana tersendiri.
Tiga Kain Tenun Dibuat Khusus di Lombok
Bagian terpenting koleksi ini terdapat pada tiga kain eksklusif yang dibuat dengan tangan oleh para perajin perempuan di Lombok. Kain tersebut menggunakan teknik songket dan tenun tradisional dengan bahan katun serta pewarna alami.
Motif Garuda dirancang khusus untuk proyek tersebut. Motif kemudian diperkaya dengan bordir beludru yang menambah kedalaman pada permukaan kain. Perpaduan tenun dan bordir membuat gambar tidak terlihat rata, terutama ketika terkena cahaya panggung.
Penggunaan tiga kain khusus menunjukkan bahwa kolaborasi tidak dimulai setelah bahan selesai dibuat. Para desainer harus memikirkan motif, ukuran pengulangan gambar, warna benang, berat kain, dan posisi tekstil ketika masuk ke pola pakaian.
Tenun untuk mantel membutuhkan pertimbangan berbeda dari tenun yang digunakan pada bagian depan jaket atau panel celana. Bahan yang terlalu kaku dapat membatasi gerakan, sedangkan bahan yang terlalu ringan mungkin tidak mampu mempertahankan siluet yang diinginkan.
Tenun Menentukan Bentuk, Bukan Hanya Menghias
Dalam banyak koleksi, kain tradisional kadang hanya digunakan pada sebagian kecil kerah, manset, atau panel dekoratif. Garuda memberi peranan lebih besar kepada tenun dengan menjadikannya pembentuk tubuh pakaian.
Kain hadir pada mantel panjang, jaket, dan bagian busana yang langsung menentukan cara model terlihat dari kejauhan. Ketika kain mempunyai bobot cukup berat, pakaian jatuh dengan tegak dan menghasilkan garis yang kuat.
Pendekatan semacam ini menuntut pemahaman terhadap sifat bahan. Tenun tangan dapat mempunyai kepadatan dan ketebalan yang tidak selalu sama pada setiap bagian. Pola busana harus menyesuaikan karakter tersebut agar sambungan tetap rapi dan motif tidak terputus secara sembarangan.
Pemilihan bahan katun juga membuat kain lebih dekat dengan iklim tropis dibandingkan material yang seluruhnya berat atau berlapis tebal. Meski beberapa tampilan mempunyai volume besar, penggunaan serat yang sesuai dapat membantu pakaian tetap lebih nyaman.
Palet Bumi Menggantikan Warna Lambang yang Terang
Koleksi Garuda tidak bergantung pada merah dan emas yang sering dipakai ketika membicarakan simbol kenegaraan. Paletnya bergerak melalui cokelat tanah, tan, arang, tanah merah, dan gading. Susunan warna itu mengingatkan pada tanah, batu, kayu, serat, dan bahan alami.
Pilihan tersebut membuat tekstur tenun lebih mudah terlihat. Warna yang tidak terlalu menyala memberi ruang bagi anyaman, bordir, jahitan, dan perbedaan permukaan antar material untuk menjadi pusat perhatian.
Cokelat dan arang juga membantu menghubungkan busana pria dengan perempuan. Koleksi tidak dipisahkan melalui warna yang dianggap khusus untuk jenis kelamin tertentu. Kesatuan dibangun melalui palet yang sama, lalu perbedaannya muncul melalui susunan lapisan dan potongan.
Warna bumi memberi kesan bahwa Garuda hadir sebagai bagian dari lanskap Indonesia. Sosoknya tidak mengambang sebagai lambang abstrak, tetapi terhubung dengan tanah tempat kapas ditanam, pewarna dibuat, dan penenun bekerja.
Denim, Beludru, dan Material Teknis Dipertemukan
Selain tenun, Mickael Nana dan Beatrice Angelica memakai kain tailoring, denim, beludru, rajut, serta material technical outerwear. Pertemuan tersebut menghasilkan permukaan yang tidak seragam dan memperkuat perbedaan antara bagian lembut dengan bagian kokoh.
Denim membawa kesan sehari hari yang dekat dengan pengguna muda. Beludru memberi pantulan cahaya dan rasa mewah. Kain tailoring menjaga garis jas, sedangkan material teknis membuat koleksi tidak terjebak sebagai busana tradisional formal.
Pencampuran bahan juga menunjukkan bahwa wastra dapat hidup berdampingan dengan tekstil industri. Tenun tidak harus selalu dipadukan dengan sutra, kebaya, atau pakaian upacara. Ia dapat ditempatkan bersama denim dan jaket luar tanpa kehilangan kekuatannya.
Tantangannya berada pada keseimbangan berat. Material dengan karakter berbeda dapat menarik jahitan ke arah yang tidak sama. Tim produksi harus mengatur pelapis, teknik sambungan, dan pola agar setiap bagian tetap stabil ketika dikenakan.
Lima Busana Pria dan Lima Busana Perempuan
Pembagian sepuluh tampilan secara seimbang memberi ruang yang sama bagi busana pria dan perempuan. Koleksi ini tidak menjadikan salah satu kategori sebagai pelengkap bagi kategori lain.
Pada busana pria, bahu besar, mantel panjang, dan celana longgar menciptakan kesan monumental. Bentuk tersebut mengingatkan pada sayap dan tubuh Garuda tanpa harus menggambar kepala atau bulunya secara langsung.
Pada busana perempuan, ketegasan tailoring bertemu dengan draping dan lapisan kain yang lebih cair. Tubuh tidak selalu dibentuk melalui potongan sempit. Volume justru digunakan untuk menghadirkan keberanian dan ruang.
Kesamaan unsur pada dua kelompok membuat beberapa bagian berpotensi dipakai tanpa batas kategori yang terlalu ketat. Jaket berstruktur, mantel, aksesori, dan celana lebar dapat dinikmati oleh pengguna dengan selera berbeda.
Lului Studio dan Zab’a Craft Memperluas Kolaborasi
Garuda tidak hanya dikerjakan oleh dua desainer utama dan para penenun Lombok. Proyek ini juga melibatkan Lului Studio milik Lidya Yuniaty Nainggolan serta Zab’a Craft karya Chici Fitria.
Lului Studio menciptakan aksesori chainmail dari manik manik. Teknik tersebut membentuk permukaan yang menyerupai rangkaian logam, tetapi mempunyai warna dan sentuhan kriya yang lebih ringan.
Zab’a Craft menghadirkan jaket rajut yang memperkaya lapisan tekstur dalam koleksi. Rajut membawa karakter berbeda dari tenun. Benangnya dapat membentuk volume lembut dan membuat susunan tailoring terasa tidak terlalu kaku.
Keterlibatan beberapa pembuat membuat Garuda lebih menyerupai proyek bersama daripada karya studio yang tertutup. Setiap artisan membawa keahlian khusus yang tidak dapat digantikan hanya melalui produksi pabrik.
“Koleksi yang mengangkat wastra akan terasa lebih utuh ketika nama para penenun dan pembuat aksesori ikut terlihat. Karya akhir tidak lahir dari meja desainer seorang diri.”
PINTU Mempertemukan Dua Cara Kerja
Garuda lahir melalui PINTU Residency Programme, program inkubasi fesyen Prancis dan Indonesia yang dikembangkan Institut Français Indonesia bersama Lakon Indonesia dan JF3. Program tersebut memberi pendampingan, jaringan profesional, akses panggung, serta kesempatan pengembangan koleksi kepada desainer dari kedua negara.
PINTU dirancang bukan hanya sebagai acara pertukaran singkat. Peserta mengikuti mentoring, kelas, pertemuan dengan pelaku industri, pengembangan koleksi kapsul, serta pengenalan terhadap ekosistem mode di Indonesia dan Prancis.
Dalam proyek Garuda, program residensi memberi waktu bagi Mickael Nana untuk berhubungan dengan tekstil dan artisan Indonesia, sementara Beatrice Angelica dapat mengembangkan karya melalui pertukaran dengan tradisi tailoring Prancis.
Model kerja ini berbeda dari kolaborasi yang hanya mencantumkan dua nama pada label. Pertemuan dilakukan sejak pencarian ide, pemilihan bahan, pembuatan kain, pengembangan pola, hingga penyajian di panggung.
JF3 Menjadi Ruang Pertemuan Desain dan Pasar
Garuda tampil dalam sesi “French Designer featuring PINTU Residents” pada 23 Juli 2026 pukul 18.30 WIB. Sesi itu menjadi bagian dari rangkaian JF3 Fashion Festival yang berlangsung pada 23 hingga 29 Juli 2026 di Summarecon Mall Kelapa Gading.
JF3 menempatkan peragaan sebagai bagian dari ekosistem yang menghubungkan desain, produksi, ritel, dan akses pasar. Artinya, koleksi tidak hanya dinilai dari penampilan beberapa menit di panggung, tetapi juga dari peluang pengembangan setelah pertunjukan.
Bagi karya seperti Garuda, tahap setelah panggung menjadi penting. Sepuluh tampilan dapat dipecah menjadi produk yang lebih mudah dijual, seperti jaket, mantel, celana, aksesori, atau panel tenun dalam jumlah terbatas.
Produksi komersial juga harus mempertimbangkan kemampuan penenun. Peningkatan pesanan tidak seharusnya mengorbankan mutu, memaksa waktu kerja berlebihan, atau mengganti bahan alami dengan pilihan murah tanpa penjelasan kepada pembeli.
Kerja Penenun Harus Menjadi Bagian dari Nilai Produk
Koleksi ini membawa pembicaraan mengenai keberlanjutan melalui keterlibatan komunitas penenun perempuan di Lombok. Kerja sama tersebut membantu menjaga teknik tenun dan songket tetap digunakan sekaligus membuka pesanan baru bagi pembuat lokal.
Namun, keberlanjutan tidak cukup diukur dari penggunaan pewarna alami atau bahan buatan tangan. Harga yang layak, waktu produksi yang masuk akal, penyebutan asal kain, dan hubungan jangka panjang dengan komunitas pembuat juga perlu diperhatikan.
Setiap meter tenun membutuhkan waktu, ketelitian, dan pengetahuan yang dipelajari selama bertahun tahun. Nilai tersebut seharusnya masuk dalam harga pakaian, bukan disembunyikan agar produk terlihat murah.
Transparansi juga membantu pembeli memahami mengapa dua produk dengan bentuk serupa dapat mempunyai harga berbeda. Pakaian yang memakai kain produksi massal tentu mempunyai proses berbeda dari busana dengan tenun khusus dan bordir yang dikerjakan melalui beberapa tahap.
Simbol Nasional Memerlukan Kehati Hatian
Penggunaan nama Garuda membawa perhatian besar sekaligus tanggung jawab. Simbol nasional mempunyai kedudukan yang tidak sama dengan motif dekoratif biasa.
Mickael Nana dan Beatrice Angelica menghindari pendekatan yang terlalu literal. Mereka mengambil kekuatan bentuk, gagasan keberagaman, serta hubungan dengan Indonesia, kemudian menyusunnya melalui pakaian.
Cara tersebut membantu koleksi menghindari kesan kostum. Garuda tetap dapat dikenali melalui judul, motif tenun, dan siluet, tetapi pakaian tidak kehilangan fungsi sebagai busana.
Pendekatan yang lebih halus juga membuat koleksi dapat diterima di luar Indonesia. Pembeli internasional tidak harus memahami seluruh lapisan simbol untuk menikmati warna, tekstur, dan potongannya. Setelah tertarik, mereka dapat mempelajari asal kain serta proses pembuatannya.
Koleksi Lintas Negara Tidak Menghapus Identitas Lokal
Pertemuan Indonesia dan Prancis dalam Garuda tidak menghasilkan gaya yang seragam. Tailoring Eropa tetap dapat dikenali melalui bahu dan jaket, sedangkan kebiasaan Indonesia muncul melalui draping, kain lilit, tenun, songket, dan kerja tangan.
Perbedaan tersebut justru dijaga agar masing masing pihak mempunyai ruang. Kolaborasi tidak meminta penenun Lombok meniru tekstil Prancis, dan tidak pula memaksa tailoring Prancis kehilangan seluruh strukturnya.
Koleksi ini memperlihatkan bahwa pertukaran budaya dapat berjalan melalui pengerjaan yang rinci. Bentuk akhir muncul setelah bahan, potongan, berat kain, dan keahlian artisan dinegosiasikan selama proses produksi.
Garuda akhirnya hadir bukan sebagai burung yang dicetak besar pada dada, melainkan sebagai tubuh busana yang terlihat kuat ketika diam dan tetap bergerak ketika model berjalan. Rentang sayapnya muncul pada bahu, bulunya terasa melalui tekstur, sementara keberagamannya tersusun dalam tenun, denim, rajut, beludru, serta jahitan yang mempertemukan Jakarta, Lombok, dan Paris.






