Anak Krakatau Siaga, Polri Kerahkan 299 Personel dan 10 K9 untuk Respons Darurat Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali meningkatkan kesiapsiagaan aparat. Korps Samapta Baharkam Polri menyiapkan 299 personel bersama 10 ekor anjing K9, kendaraan penyelamatan, kendaraan penanganan kebakaran, dapur lapangan, kendaraan khusus K9, serta berbagai perlengkapan pencarian dan pertolongan. Kekuatan tersebut disiapkan untuk bergerak apabila keadaan di sekitar Banten, Lampung, dan wilayah lain membutuhkan bantuan tambahan.
Kesiapan Polri dilakukan ketika Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Episode erupsi menerus yang berlangsung sekitar 25 jam memang telah berhenti pada Minggu, 6 September 2026 pukul 00.04 WIB, tetapi aktivitas vulkanik belum sepenuhnya reda. Gunung tersebut bahkan kembali mengalami erupsi pada Minggu malam pukul 20.23 WIB dengan amplitudo maksimum 58 milimeter dan durasi sekitar 44 detik.
PVMBG tetap meminta masyarakat, nelayan, pengunjung, dan wisatawan tidak memasuki radius tiga kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Potensi letusan berikutnya masih dinilai tinggi sehingga peningkatan kesiapan personel dilakukan sebelum keadaan berkembang menjadi kebutuhan evakuasi yang lebih besar.
Apel Kesiapsiagaan Digelar di Depok
Kesiapan 299 personel tersebut ditunjukkan dalam Apel Kesiapan Tanggap Darurat Bencana yang dipimpin Kakorsabhara Baharkam Polri Irjen Pol Nazli di Lapangan Apel Korsabhara Baharkam Polri, Depok, Minggu, 6 September 2026.
Polri tidak hanya menyiapkan anggota yang bertugas menjaga keamanan. Unsur yang disiagakan mempunyai kemampuan berbeda, mulai dari SAR, Perintis, Polisi Satwa, sampai tim K9. Kendaraan penyelamatan dan berbagai perlengkapan pendukung juga diperiksa agar dapat langsung digunakan ketika mendapat perintah bergerak.
Kesiapan tersebut diperluas ke tingkat kewilayahan. Dirsabhara dan Dirsamapta Polda Banten, Polda Lampung, serta Polda Metro Jaya diperintahkan melaksanakan apel kesiapsiagaan pasukan.
Pemilihan tiga wilayah tersebut berkaitan dengan posisi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda serta persebaran abu yang telah mencapai wilayah lebih luas.
299 Personel Tidak Hanya Disiapkan untuk Evakuasi
Pengerahan personel kepolisian ketika gunung api aktif tidak selalu berarti evakuasi warga akan langsung dilakukan. Tugas kepolisian jauh lebih luas dan menyesuaikan keadaan yang ditemukan di lapangan.
Personel dapat membantu membuka akses jalan, melakukan patroli di wilayah pesisir, menjaga jalur kendaraan, membantu penyelamatan, mengamankan lokasi pengungsian, serta mendukung distribusi kebutuhan masyarakat.
Karo Penmas Divhumas Polri Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu Andiko menjelaskan kesiapsiagaan tersebut ditujukan agar masyarakat dapat memperoleh bantuan secara cepat ketika muncul kebutuhan pencarian, pertolongan, evakuasi, gangguan mobilitas, maupun keadaan darurat lainnya.
Kawasan permukiman, jalur lalu lintas, wilayah pesisir, dan lokasi yang menjadi akses masyarakat termasuk dalam perhatian patroli.
Dengan pola tersebut, personel tidak harus menunggu munculnya keadaan besar sebelum bergerak. Pengawasan dapat dilakukan sejak aktivitas vulkanik masih berada pada tahap yang memungkinkan kehidupan masyarakat berjalan.
“Menurut penulis, kesiapsiagaan sebelum keadaan membesar jauh lebih penting daripada menunggu munculnya kebutuhan evakuasi. Personel, kendaraan, dan jalur komunikasi harus sudah mengetahui tugas masing masing ketika masyarakat membutuhkan bantuan.”
Sepuluh K9 Disiapkan untuk Kemampuan SAR
Kehadiran 10 ekor K9 menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian dalam kesiapan Polri. Anjing terlatih tersebut berada bersama unsur Polisi Satwa dan tim SAR yang dapat digerakkan ketika dibutuhkan.
Dalam operasi kebencanaan, K9 dapat membantu pencarian seseorang di area yang sulit dijangkau manusia. Kemampuan penciuman mereka menjadi pendukung ketika petugas harus mencari orang yang terpisah dari kelompok, hilang, atau berada di lokasi dengan jarak pandang terbatas.
Namun, penting dipahami bahwa 10 K9 tersebut saat ini berada dalam posisi disiapkan. Belum ada keterangan bahwa kesepuluh anjing tersebut telah diturunkan untuk mencari korban akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Sampai laporan terbaru, belum terdapat informasi korban jiwa akibat rangkaian erupsi kali ini. Karena itu, fungsi K9 saat ini merupakan bagian dari kesiapan SAR apabila keadaan di lapangan membutuhkan kemampuan pencarian lebih lanjut.
Tim K9 juga membutuhkan handler, kendaraan, perlengkapan kesehatan satwa, air, serta pengaturan kerja khusus. Hal tersebut menjelaskan mengapa kendaraan K9 ikut dimasukkan ke dalam perlengkapan yang dipersiapkan Korsabhara.
Dapur Lapangan Ikut Masuk Peralatan Siaga
Selain kendaraan rescue, Polri menyiapkan dapur lapangan. Perlengkapan ini menjadi bagian penting apabila penanganan berlangsung dalam waktu panjang atau muncul kebutuhan menyediakan makanan bagi petugas dan masyarakat.
Operasi bencana dapat berlangsung berjam jam bahkan berhari hari. Personel yang ditempatkan di lapangan membutuhkan suplai makanan tanpa harus meninggalkan posisinya terlalu lama.
Dapur lapangan juga dapat membantu apabila terdapat warga yang harus berpindah menuju tempat aman.
Jumlah orang yang membutuhkan dukungan tentu akan disesuaikan dengan keadaan sebenarnya. Sampai sekarang, kesiapan tersebut masih bersifat antisipatif karena belum ada pemerintah daerah di sekitar wilayah yang terpapar abu yang menetapkan status kedaruratan bencana. BNPB pada Minggu juga menyatakan terus menyiapkan perangkat, sirene, lokasi evakuasi, rencana kontinjensi, serta stok makanan apabila diperlukan.
Erupsi Menerus Berlangsung Sekitar 25 Jam
Aktivitas yang memicu peningkatan kewaspadaan bermula pada Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB.
PVMBG mencatat episode gempa erupsi menerus sejak waktu tersebut. Aktivitas berlangsung sampai Minggu, 6 September pukul 00.04 WIB atau sekitar 25 jam. Erupsi juga disertai suara gemuruh, dentuman, dan fenomena menyerupai air mancur lava.
Berakhirnya episode tersebut tidak membuat status Gunung Anak Krakatau diturunkan.
Kepala PVMBG Siti Sumilah Rita Susilawati menjelaskan dinamika vulkanisme masih sangat aktif. Berdasarkan pemantauan instrumental, peluang letusan susulan dalam waktu dekat masih tergolong tinggi.
Potensi bahaya yang diperhatikan mencakup lontaran batu pijar, hujan abu lebat, serta kemungkinan aliran lava apabila erupsi menerus kembali berlangsung.
Kondisi itu menjadi alasan status Level III tetap dipertahankan.
Minggu Malam Anak Krakatau Kembali Erupsi
Kewaspadaan PVMBG terbukti masih diperlukan ketika Gunung Anak Krakatau kembali erupsi pada Minggu malam.
Badan Geologi mencatat erupsi pada pukul 20.23 WIB. Aktivitas tersebut terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 58 milimeter dan berlangsung selama sekitar 44 detik. Tinggi kolom abu pada erupsi tersebut tidak teramati.
Erupsi itu terjadi lebih dari 20 jam setelah episode menerus sebelumnya dinyatakan berhenti.
Keadaan tersebut menunjukkan bahwa berhentinya satu episode tidak otomatis berarti aktivitas Gunung Anak Krakatau telah selesai.
PVMBG tetap mempertahankan Level III serta meminta masyarakat tidak menganggap penurunan aktivitas sebagai tanda kawasan sudah bebas untuk didekati.
Pemantauan dilakukan melalui instrumen seismik, pengamatan visual, serta berbagai parameter vulkanik lainnya.
Radius Tiga Kilometer Harus Dipatuhi
PVMBG menetapkan masyarakat berada di luar radius tiga kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Batas tersebut berlaku untuk masyarakat umum, wisatawan, pengunjung, maupun pihak lain yang tidak mempunyai tugas khusus di kawasan gunung api.
Polisi kemudian memperkuat pengawasan di laut untuk memastikan ketentuan itu dipatuhi.
Polda Lampung bersama BKSDA, Satpolair Polres Lampung Selatan, Ditpolair Polda Lampung, petugas kesehatan, dan unsur lain melakukan patroli di sekitar gugus Pulau Anak Krakatau.
Patroli bahkan menemukan sejumlah nelayan yang masih menangkap ikan menggunakan jaring di wilayah yang termasuk radius larangan.
Petugas mendatangi mereka dan meminta para nelayan segera menjauh. Masker juga diberikan untuk mengurangi paparan abu.
Kapal yang Diduga Membawa Wisatawan Ikut Dipantau
Pengawasan tidak hanya menyasar nelayan.
Dalam patroli yang dilakukan aparat, sebuah kapal putih jenis speed fiber terlihat bergerak mendekati kawasan Anak Krakatau. Ketika petugas bergerak mendekati kapal tersebut, kapal kemudian berbalik arah menuju perairan Banten.
Belum ada kepastian mengenai siapa yang berada di dalam kapal itu. Aparat hanya menyebut adanya dugaan kapal membawa wisatawan.
Polda Lampung kemudian mengingatkan pengelola kapal wisata agar tidak membawa pengunjung mendekati wilayah terlarang.
Aktivitas gunung api memang dapat menjadi daya tarik visual, terutama ketika lava pijar terlihat pada malam hari. Namun, keinginan memperoleh foto atau melihat erupsi dari jarak dekat dapat menempatkan wisatawan pada wilayah yang berisiko terkena lontaran material.
Petugas juga memasang banner mengenai larangan beraktivitas dalam radius tiga kilometer dan memberikan sosialisasi kepada masyarakat di Pulau Sebesi.
Abu Vulkanik Menjangkau Wilayah yang Sangat Luas
Perhatian tidak hanya berada pada kawasan tiga kilometer dari kawah.
Abu vulkanik dapat bergerak ratusan kilometer mengikuti arah dan kecepatan angin. Pemantauan pada Minggu menunjukkan abu Anak Krakatau mencapai wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, Bengkulu, dan kawasan perairan sekitarnya.
Analisis PVMBG, VAAC Darwin, dan citra satelit Himawari 9 menemukan lapisan abu pada ketinggian tertentu mencapai sekitar 50.000 kaki atau lebih dari 15 kilometer.
Lapisan yang lebih rendah bergerak ke wilayah berbeda dari abu pada lapisan tinggi.
Keadaan atmosfer seperti ini membuat lokasi yang jauh dari Gunung Anak Krakatau tetap dapat mengalami hujan abu meskipun tidak berada dalam zona bahaya langsung.
Abu yang sampai ke permukiman dapat menempel pada kendaraan, atap rumah, jalan, tanaman, dan berbagai permukaan terbuka.
Polda Lampung Membagikan Masker kepada Warga
Selain menyiapkan pasukan untuk keadaan darurat, kepolisian di Lampung melakukan tindakan yang langsung menyentuh masyarakat.
Polsek Kalianda bersama unsur Forkopimcam Rajabasa membagikan masker kepada warga Desa Way Muli Timur, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan. Kegiatan dilakukan setelah aktivitas Anak Krakatau membawa abu ke sejumlah kawasan.
Polda Lampung juga meningkatkan kesiapan kesehatan untuk menghadapi paparan abu vulkanik.
Masker menjadi perlindungan sederhana yang penting ketika partikel abu berada di udara.
Masyarakat juga perlu menjaga mata dari paparan langsung, menutup sumber air dan makanan, serta membersihkan abu secara hati hati agar partikel tidak kembali beterbangan.
Kelompok yang mempunyai gangguan pernapasan membutuhkan perhatian lebih besar ketika kualitas udara memburuk.
Bandara Sempat Ditutup karena Abu
Sebaran abu Gunung Anak Krakatau juga menimbulkan gangguan besar terhadap penerbangan.
Pada Minggu pagi, BNPB awalnya mencatat empat bandara mengalami penutupan sementara, yaitu Soekarno Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II, dan Budiarto Curug. Jumlah tersebut kemudian berkembang menjadi enam dan selanjutnya delapan bandara seiring pemantauan abu sepanjang hari.
Reuters melaporkan lebih dari 1.500 penerbangan mengalami pembatalan atau gangguan dan sekitar 170 ribu penumpang terpengaruh oleh penghentian operasional tersebut.
Abu vulkanik merupakan persoalan serius untuk penerbangan karena partikel dapat mengganggu mesin pesawat, visibilitas, serta berbagai komponen penerbangan.
Otoritas karena itu memilih mengutamakan keselamatan daripada memaksakan penerbangan tetap beroperasi.
Kementerian Perhubungan melakukan pemutakhiran kondisi secara berkala berdasarkan perkembangan abu dan informasi dari lembaga vulkanologi serta meteorologi.
Transportasi Laut Tetap Berjalan dengan Pengawasan
Berbeda dengan penerbangan, penyeberangan laut melalui Selat Sunda masih dapat berlangsung berdasarkan informasi BNPB dan Kementerian Perhubungan pada Minggu.
Meski demikian, pengelola pelabuhan dan kapal tetap diminta memperhatikan informasi terbaru mengenai kondisi Anak Krakatau.
Perjalanan laut mempunyai persoalan berbeda karena kapal dapat berada lebih dekat dengan kawasan gunung api dibandingkan pesawat komersial.
Karena itu, kepatuhan terhadap radius larangan tetap menjadi bagian utama.
Patroli Ditpolair dan Satpolair membantu memastikan kapal nelayan maupun wisata tidak bergerak terlalu dekat dengan Anak Krakatau.
Masker juga dianjurkan untuk penumpang atau pekerja kapal apabila abu berada di jalur pelayaran.
Polri Siapkan Patroli di Permukiman dan Pesisir
Personel yang disiapkan Korsabhara tidak seluruhnya diarahkan menuju kawah.
Polri menjelaskan patroli akan diperkuat pada kawasan permukiman, pesisir, jalur lalu lintas, dan lokasi yang menjadi akses masyarakat.
Langkah tersebut penting karena kebutuhan masyarakat ketika aktivitas gunung meningkat tidak hanya berada pada zona terdekat.
Gangguan penerbangan dapat menimbulkan kepadatan kendaraan. Hujan abu dapat membuat warga membutuhkan masker. Apabila pergerakan masyarakat meningkat, jalur menuju fasilitas kesehatan dan tempat aman perlu dijaga.
Personel Perintis dapat membantu patroli dan pengamanan. Unsur SAR mempunyai kemampuan untuk pencarian dan pertolongan. Polisi Satwa dan K9 disiapkan untuk kebutuhan yang lebih khusus.
Pembagian kemampuan membuat pasukan dapat digunakan sesuai keadaan tanpa seluruh personel melakukan pekerjaan yang sama.
Layanan Polisi 110 Ikut Disiapkan
Polri juga mengingatkan masyarakat dapat menggunakan layanan 110 apabila membutuhkan bantuan kepolisian.
Kanal tersebut menjadi penting ketika keadaan berubah cepat dan masyarakat perlu melaporkan gangguan akses, orang yang membutuhkan pertolongan, atau situasi lain yang membutuhkan kehadiran petugas.
Brigjen Trunoyudo menegaskan kesiapan pasukan bukan dimaksudkan untuk membuat masyarakat panik.
Polri ingin memastikan kemampuan respons tersedia apabila perkembangan aktivitas Anak Krakatau membutuhkan pengerahan tambahan.
“Kesiapan ratusan personel sebaiknya dibaca sebagai langkah antisipasi. Keberadaan pasukan tidak berarti keadaan terburuk sedang terjadi, tetapi menunjukkan bantuan telah disiapkan sebelum masyarakat benar benar membutuhkannya.”
Sirene dan Tempat Evakuasi Ikut Diperiksa
BNPB pada saat yang sama meminta pemerintah daerah memeriksa kesiapan berbagai perangkat penanganan.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto meminta keberfungsian sirene, tempat evakuasi, rencana kontinjensi, peralatan, serta stok makanan diperiksa kembali. BNPB juga mengirim personel menuju wilayah yang terpapar abu untuk melihat keadaan secara langsung.
Koordinasi dilakukan melalui pemerintah provinsi, kabupaten, kota, BPBD, serta kementerian dan lembaga terkait.
Sampai Minggu siang, belum ada pemerintah daerah yang menetapkan status kedaruratan bencana akibat aktivitas Anak Krakatau.
Keadaan tersebut dapat berubah apabila parameter vulkanik, sebaran abu, atau kebutuhan masyarakat meningkat.
Karena itu, kesiapan yang dibangun Polri berjalan bersama pemantauan PVMBG dan koordinasi BNPB.
Warga Diminta Mengikuti Informasi Resmi
Aktivitas Gunung Anak Krakatau dapat berubah dalam waktu relatif singkat. Erupsi menerus selama sekitar 25 jam sempat berhenti, tetapi erupsi kembali tercatat pada Minggu malam.
Situasi seperti itu membuat informasi lama tidak selalu dapat digunakan sebagai dasar mengambil keputusan beberapa jam kemudian.
PVMBG menjadi rujukan utama untuk tingkat aktivitas dan zona bahaya. BMKG memantau kondisi atmosfer dan persebaran abu. BNPB serta BPBD memberikan informasi penanganan masyarakat, sedangkan kepolisian membantu pengamanan, patroli, pertolongan, dan pengaturan akses.
Polri meminta masyarakat tidak mudah mempercayai informasi yang tidak mempunyai sumber jelas serta tetap mengikuti arahan resmi dari PVMBG, Badan Geologi, BMKG, BNPB, BPBD, dan pemerintah daerah.
Bagi nelayan dan wisatawan, ketentuan paling tegas saat ini tetap berada pada radius tiga kilometer. Kawasan tersebut tidak boleh dimasuki untuk kegiatan wisata, memancing, maupun aktivitas lain selama Level III masih diberlakukan.
Patroli laut akan terus dilakukan, sedangkan 299 personel beserta 10 K9 dan peralatan SAR tetap disiapkan agar dapat bergerak ketika kebutuhan di lapangan meningkat.
