Gempa bumi besar yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026 masih diikuti aktivitas gempa susulan dalam jumlah tinggi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memperkirakan rangkaian tersebut dapat berlangsung sekitar tiga hingga empat minggu setelah gempa utama. Perkiraan ini muncul setelah BMKG memantau ribuan kejadian di sekitar zona sumber gempa M7,7.
Hingga 21 Agustus 2026 pukul 05.00 WIB, BMKG mencatat 4.258 gempa susulan. Sebanyak 118 kejadian dirasakan masyarakat, sementara 31 gempa memiliki magnitudo di atas M5,0. Angka tersebut menunjukkan aktivitas seismik di Flores masih tinggi sehingga kewaspadaan tetap diperlukan, terutama di sekitar bangunan rusak, lereng terjal, dan kawasan yang memiliki akses evakuasi terbatas.
Gempa M7,7 Menjadi Awal Rangkaian Guncangan Panjang di Flores
Gempa utama terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 04.58 WIB. Hasil analisis BMKG menunjukkan pusat gempa berada di laut sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Nagekeo, NTT, dengan kedalaman sekitar 15 kilometer. Gempa dangkal tersebut berkaitan dengan aktivitas Flores Back Arc Thrust dan memiliki mekanisme sesar naik.
BMKG sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami. Pengamatan kemudian mendeteksi perubahan muka air laut di sejumlah lokasi, dengan catatan sekitar 0,94 meter di Maurole, Ende. Setelah pemantauan menunjukkan tidak ada lagi kenaikan muka air laut yang membahayakan, peringatan dini tsunami dihentikan pada pukul 07.30 WIB.
Sejak gempa utama, alat pemantauan terus merekam guncangan lanjutan dengan magnitudo dan lokasi yang beragam. Sebagian besar tidak dirasakan, tetapi beberapa kejadian cukup kuat sehingga menambah kekhawatiran warga yang masih berada di pengungsian atau tinggal dekat bangunan yang rusak.
Mengapa Gempa Susulan Diperkirakan Bertahan Sampai Empat Minggu
Perkiraan tiga hingga empat minggu bukan berarti gempa akan terasa terus menerus sepanjang periode tersebut. BMKG membaca perkembangan berdasarkan jumlah kejadian harian, perubahan magnitudo, lokasi pusat gempa, dan pola penyebaran aktivitas dari waktu ke waktu.
Pada hari pertama setelah gempa utama tercatat sekitar 704 gempa susulan. Jumlahnya meningkat menjadi 746 pada hari kedua. Pada hari ketiga sampai hari kelima, catatannya berada di kisaran 668, 649, dan 627 kejadian. Pada hari keenam jumlah gempa kembali naik menjadi sekitar 802 kejadian. Pola ini menunjukkan penurunan aktivitas belum berlangsung secara konsisten.
Dalam rangkaian gempa besar, frekuensi gempa susulan umumnya berkurang seiring waktu. Namun, penurunannya tidak selalu berlangsung lurus setiap hari. Tegangan pada bagian lain dari zona sesar dapat menimbulkan peningkatan sementara sehingga pemantauan tetap diperlukan.
Menurut penulis, angka ribuan gempa susulan perlu dibaca sebagai alasan meningkatkan kesiapsiagaan, bukan sebagai alasan menyebarkan kepanikan.
Pusat Gempa Susulan Membentuk Beberapa Kelompok Aktivitas
BMKG menemukan bahwa pusat gempa susulan tidak tersebar secara seragam. Setelah dilakukan relokasi, kejadian gempa membentuk beberapa kelompok. Kelompok utama berada di sekitar zona sumber M7,7 di utara Nagekeo dan memanjang mengikuti jalur Flores Back Arc Thrust. Kelompok lain muncul lebih ke barat, terutama di sebelah utara Kabupaten Manggarai.
Pada hari pertama sampai hari keempat, aktivitas masih tersebar dari bagian timur hingga barat. Memasuki hari kelima dan keenam, aktivitas lebih banyak bergeser ke bagian barat, sementara kelompok di timur mulai menunjukkan penurunan intensitas secara bertahap.
Perubahan lokasi ini menjelaskan mengapa warga di wilayah berbeda dapat merasakan guncangan pada waktu yang berbeda. Lokasi episenter, kedalaman, kondisi tanah, dan jarak terhadap permukiman ikut menentukan kuat lemahnya getaran di permukaan.
Beberapa Gempa Susulan Masih Berkekuatan di Atas M5,0
Walaupun berstatus gempa susulan, beberapa guncangan tetap memiliki kekuatan yang cukup besar. Salah satu kejadian pada 20 Agustus 2026 pukul 09.47 WIB memiliki parameter pembaruan M5,7 dengan kedalaman sekitar 10 kilometer. Pusatnya berada di darat sekitar 36 kilometer timur laut Ruteng, Manggarai.
Gempa tersebut dirasakan dengan intensitas V sampai VI MMI di Kabupaten Manggarai. Nagekeo dan Ende merasakan sekitar V MMI, sedangkan Manggarai Barat, Sumba Timur, dan Sikka berada pada kisaran III sampai IV MMI. BMKG memastikan kejadian ini tidak berpotensi tsunami.
Guncangan lanjutan dapat menjadi masalah serius ketika bangunan sudah melemah akibat gempa utama. Retakan pada dinding, kolom, balok, fondasi, sambungan atap, atau bagian bangunan lainnya dapat membesar apabila menerima getaran berikutnya.
Bangunan Retak Menjadi Perhatian Utama Selama Periode Susulan
BMKG meminta masyarakat tidak memasuki bangunan yang retak atau rusak berat sebelum diperiksa pihak yang berwenang di bidang struktur. Imbauan ini penting karena rangkaian gempa susulan masih diperkirakan berlangsung beberapa minggu.
Rumah yang masih berdiri belum tentu memiliki kekuatan seperti sebelum gempa. Selain struktur utama, warga perlu memperhatikan genteng, kaca, plafon, lemari tinggi, serta benda berat yang dapat jatuh ketika guncangan kembali terjadi.
Pada 22 Agustus, BMKG masih menerjunkan tim teknis ke Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur, Nagekeo, dan wilayah lain di Flores. Tim memeriksa tingkat guncangan, kondisi tanah, struktur bawah permukaan, kerusakan bangunan, serta perubahan muka air laut di kawasan pesisir.
Korban dan Pengungsi Membuat Situasi Semakin Berat
Berdasarkan pembaruan BNPB hingga 21 Agustus 2026 pukul 16.00 WIB, korban meninggal tercatat 83 orang dan 986 orang mengalami luka. Lebih dari 110.785 warga masih mengungsi. Data tersebut masih dapat berubah karena proses verifikasi dan pendataan terus berjalan.
BNPB juga mencatat sekitar 45.006 rumah mengalami kerusakan dengan tingkat berbeda. Sebanyak 17.175 rumah rusak berat, 9.818 rusak sedang, dan 18.013 rusak ringan. Kerusakan pada fasilitas pendidikan membuat sebagian sekolah meliburkan siswa, menjalankan belajar jarak jauh, atau menggunakan ruang darurat.
Jumlah pengungsi yang besar membuat informasi gempa susulan sangat penting. Setiap getaran dapat memicu kepanikan, terutama bagi warga yang kehilangan rumah atau belum memperoleh kepastian mengenai keamanan tempat tinggalnya.
Longsor dan Jalur Transportasi Juga Perlu Diawasi
Bahaya selama rangkaian gempa bukan hanya berasal dari bangunan. Guncangan berulang dapat memengaruhi lereng yang sudah retak atau kehilangan kestabilan. BMKG mencatat gempa kuat pada 20 Agustus berkaitan dengan kerusakan tambahan pada struktur dan kejadian tanah longsor di sejumlah titik.
BNPB mencatat sembilan ruas jalan nasional sempat mengalami gangguan, termasuk puluhan titik longsoran dan beberapa titik patahan. Pada pembaruan 21 Agustus, seluruh ruas tersebut dilaporkan telah kembali berfungsi, termasuk jalur utama yang menghubungkan Ende dan Nagekeo.
Warga yang tinggal dekat tebing atau lereng curam perlu memperhatikan retakan tanah, batu yang mulai berjatuhan, pohon yang miring, atau perubahan bentuk lereng setelah gempa terasa.
BMKG Memantau Aktivitas Gempa Selama 24 Jam
BMKG menjalankan pemantauan kegempaan selama 24 jam setiap hari. Data yang dianalisis meliputi jumlah gempa, magnitudo, kedalaman, distribusi sumber, pergeseran kelompok aktivitas, serta karakter sumber gempa. Pengamatan ini penting karena pola rangkaian gempa dapat berubah dari satu hari ke hari berikutnya.
Untuk rangkaian Flores, BMKG menyampaikan pembaruan gempa susulan dua kali sehari, sekitar pukul 05.00 WIB dan 17.00 WIB. Angka pada setiap pembaruan dapat berbeda karena alat terus merekam kejadian baru dan sejumlah parameter masih dapat diperbarui setelah analisis lanjutan.
Penulis menilai kedisiplinan mengikuti informasi resmi sama pentingnya dengan kesiapan fisik, karena kabar keliru dapat memicu keputusan yang salah saat keadaan darurat.
Empat Minggu Bukan Tanggal Berhenti yang Bisa Dipastikan
Perkiraan tiga hingga empat minggu merupakan hasil analisis berdasarkan perkembangan rangkaian gempa yang sedang diamati. Aktivitas seismik tidak memiliki tanggal berhenti yang dapat ditentukan secara mutlak.
Jumlah gempa kemungkinan berkurang secara bertahap, tetapi guncangan yang terasa masih mungkin muncul di tengah tren penurunan. Satu atau dua hari yang lebih tenang belum cukup untuk memastikan seluruh rangkaian telah selesai. Sebaliknya, satu gempa susulan yang kuat juga tidak otomatis berarti akan muncul gempa yang lebih besar.
Karena itu, perkembangan perlu dibaca dari data yang lebih panjang. Lokasi, kedalaman, mekanisme sumber, jumlah kejadian, dan perubahan magnitudo menjadi bagian dari analisis untuk melihat apakah aktivitas benar benar mulai mereda.
Bantuan untuk Pengungsi Terus Disalurkan ke Wilayah Gempa
Distribusi bantuan terus dilakukan melalui pusat logistik Labuan Bajo dan Maumere. Hingga 21 Agustus, BNPB melaporkan ratusan ton bantuan pangan dan nonpangan telah dikirim. Tenda keluarga dan tenda pengungsi juga disalurkan untuk mendukung kebutuhan tempat tinggal sementara. Pada 22 Agustus, sistem distribusi masih diperkuat agar bantuan dapat menjangkau lokasi yang lebih jauh.
Selama gempa susulan masih aktif, kebutuhan air bersih, obat, makanan, sanitasi, penerangan, tempat tidur, dan ruang aman bagi kelompok rentan tetap menjadi perhatian. Jalur komunikasi juga perlu dijaga agar warga menerima informasi gempa dengan cepat.
Yang Perlu Dilakukan Warga Saat Gempa Susulan Kembali Terasa
Ketika gempa kembali terjadi, prioritas pertama adalah melindungi diri dari benda jatuh dan bagian bangunan yang berpotensi roboh. Jika berada di bangunan yang dinyatakan aman, warga dapat berlindung di bawah perabot kuat sambil melindungi kepala. Setelah guncangan berhenti, keluar melalui jalur aman dan hindari berdesakan.
Di luar ruangan, jauhi bangunan, tiang listrik, papan reklame, pohon besar, dan dinding retak. Di daerah perbukitan, hindari berdiri di bawah tebing yang menunjukkan retakan. Warga pesisir juga perlu mengenali jalur menuju tempat tinggi serta mengikuti peringatan resmi apabila muncul ancaman tsunami.
Ponsel sebaiknya memiliki daya yang cukup dan digunakan untuk komunikasi penting. Dokumen pribadi, obat rutin, air minum, senter, pakaian, masker, serta kebutuhan keluarga dapat ditempatkan dalam tas yang mudah dibawa jika sewaktu waktu harus berpindah.
BMKG meminta masyarakat tetap tenang, tidak mempercayai kabar yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, serta menjauhi bangunan rusak sampai diperiksa. Dengan perkiraan gempa susulan yang masih dapat berlangsung hingga sekitar empat minggu, kewaspadaan warga Flores dan wilayah sekitar tetap diperlukan selama aktivitas seismik belum menunjukkan penurunan stabil.






