Ford Akui AI Tak Cukup, 350 Insinyur Senior Direkrut Kembali Ford Motor Company menjadi sorotan setelah mengakui bahwa penggunaan kecerdasan buatan dan sistem otomatis tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan kualitas kendaraan. Produsen otomotif asal Amerika Serikat itu akhirnya merekrut, mempromosikan, dan memanggil kembali lebih dari 350 insinyur serta spesialis teknis berpengalaman untuk memperbaiki cara kerja perusahaan dalam mendeteksi cacat kendaraan.
Langkah ini menarik karena terjadi ketika banyak perusahaan besar sedang berlomba mengandalkan AI untuk memangkas biaya dan mempercepat proses kerja.
Ford Mengakui AI Tidak Bisa Bekerja Sendirian
Ford sebelumnya berharap AI dan sistem otomatis dapat membantu memperbaiki kualitas produk. Perusahaan memakai alat otomatis dalam proses desain, produksi, serta pengecekan kendaraan. Namun, hasilnya tidak sepenuhnya sesuai harapan karena AI tidak memiliki pengalaman manusia dalam membaca risiko yang muncul dari proses pembuatan kendaraan.
Charles Poon, Vice President of Vehicle Hardware Engineering Ford, menyatakan bahwa perusahaan keliru ketika mengira penggunaan AI dan penyesuaian persyaratan desain sudah cukup untuk menghasilkan produk berkualitas. Pernyataan ini menjadi pengakuan penting dari perusahaan otomotif besar di tengah tren adopsi AI yang sangat cepat.
Kesalahan Ada pada Cara Memakai AI
Masalah utama Ford bukan karena AI sepenuhnya tidak berguna. Teknologi itu tetap dianggap penting. Namun, Ford menyadari bahwa AI hanya sebaik data yang digunakan untuk melatihnya. Jika data tidak lengkap, tidak berisi pengalaman teknis yang cukup, atau tidak menangkap masalah lintas tim, hasilnya juga tidak akan memadai.
Dalam industri otomotif, kesalahan kecil dapat berujung pada gangguan besar. Satu komponen yang tidak diperiksa dengan tepat bisa menimbulkan keluhan pelanggan, perbaikan garansi, bahkan recall. Karena itu, AI tidak bisa hanya diberi daftar aturan lalu dibiarkan bekerja tanpa pengawasan ahli.
Pengetahuan Lama Sempat Hilang
Ford juga menyadari bahwa sebagian pengetahuan berharga hilang ketika insinyur senior pensiun atau keluar dari perusahaan. Mereka membawa pengalaman dari banyak siklus pengembangan kendaraan. Pengalaman seperti itu tidak selalu tertulis dalam dokumen resmi.
Inilah titik yang membuat Ford harus memanggil kembali orang orang berpengalaman. Mereka bukan hanya diminta memperbaiki kesalahan, tetapi juga mengajarkan pola pikir teknis kepada generasi insinyur yang lebih muda.
Lebih dari 350 Spesialis Senior Masuk Lagi
Ford menyebut telah merekrut, mempromosikan, atau memanggil kembali lebih dari 350 spesialis teknis berpengalaman. Sebagian adalah mantan karyawan, sebagian lain berasal dari pemasok atau jalur teknis lain. Mereka kerap disebut sebagai insinyur senior dengan pengalaman panjang dalam pengembangan kendaraan.
Peran mereka tidak sederhana. Mereka diminta menjadi pembimbing, pemeriksa, auditor internal, dan penjaga kualitas sejak tahap awal. Dengan kata lain, Ford tidak hanya menambah jumlah pegawai, tetapi juga mengembalikan lapisan keahlian yang sempat berkurang.
Menjadi Mentor untuk Insinyur Muda
Para spesialis senior itu membantu membimbing insinyur muda. Dalam produksi mobil, pengalaman sering menentukan kemampuan membaca gejala kecil. Tidak semua masalah bisa ditemukan lewat perangkat lunak. Ada hal yang hanya terlihat ketika seseorang pernah menghadapi kasus serupa di proyek sebelumnya.
Mentor berpengalaman dapat bertanya lebih tajam saat desain diperiksa. Mereka tahu titik mana yang rawan gagal, bagian mana yang sering menimbulkan keluhan, dan proses mana yang perlu diperketat sebelum kendaraan masuk jalur produksi.
Memimpin Tinjauan Desain
Ford kini memperkuat tinjauan desain wajib. Para spesialis senior bertugas mencari titik kegagalan sebelum komponen sampai ke pabrik. Cara ini berbeda dari pola lama yang lebih banyak bergerak setelah masalah muncul.
Pendekatan baru ini membuat Ford mencoba mencegah persoalan sejak awal. Jika kesalahan desain dapat ditemukan sebelum produksi massal, biaya perbaikan menjadi jauh lebih kecil dibanding memperbaiki kendaraan yang sudah sampai ke konsumen.
Dari Pola Menambal ke Pola Mencegah
Kumar Galhotra, Chief Operating Officer Ford, menyebut perusahaan sebelumnya terlalu sering berada dalam pola menemukan masalah lalu memperbaikinya. Cara itu bisa menyelesaikan keluhan yang sudah muncul, tetapi tidak cukup kuat untuk mencegah masalah serupa terulang.
Ford kini ingin bergerak lebih awal. Perusahaan menggabungkan tim teknik, manufaktur, rantai pasok, perangkat lunak, dan kualitas agar tidak bekerja dalam ruang terpisah. Masalah kendaraan sering muncul justru di batas antarbagian, misalnya saat desain bertemu proses produksi atau saat perangkat lunak bertemu sistem kendaraan.
Silo Antarbagian Dianggap Menghambat
Dalam perusahaan besar, tiap tim bisa sangat ahli di bidang masing masing. Namun, jika komunikasi lemah, persoalan dapat lolos dari pengawasan. Desain yang terlihat baik di meja insinyur belum tentu mudah diproduksi di pabrik. Komponen yang terlihat aman secara teori bisa bermasalah saat dipasang bersama sistem lain.
Ford menyadari bahwa kualitas kendaraan tidak dapat dijaga oleh satu tim saja. Semua bagian harus saling membaca risiko sejak awal. Di sinilah peran insinyur senior menjadi penting karena mereka memahami hubungan antardepartemen.
Pemeriksaan Lebih Awal Lebih Murah
Dalam industri otomotif, memperbaiki kesalahan saat kendaraan sudah diproduksi sangat mahal. Perusahaan harus mengeluarkan biaya garansi, mengirim pemberitahuan kepada konsumen, menyediakan suku cadang, dan menangani reputasi merek. Bila persoalan menyangkut keselamatan, recall menjadi kewajiban.
Mencegah kesalahan sejak desain lebih murah dan lebih aman. Itulah alasan Ford kini menempatkan spesialis senior sebagai penjaga awal, bukan hanya pemadam masalah setelah kendaraan dipasarkan.
AI dapat mempercepat pemeriksaan, tetapi pengalaman manusia tetap menjadi radar yang membaca hal hal yang belum sempat dipelajari mesin.
AI Tetap Dipakai, tetapi Tidak Lagi Dibiarkan Sendiri
Ford tidak meninggalkan AI. Perusahaan tetap memakai teknologi otomatis untuk membantu pengujian perangkat lunak dan validasi kendaraan. Bahkan, Ford menyebut telah menambah lebih dari 100.000 pengujian berbasis AI untuk mencari kondisi ekstrem dan potensi kesalahan perangkat lunak.
Bedanya, AI kini ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengganti penuh tenaga ahli. Ford mencoba membangun kerja gabungan antara teknologi dan manusia, dengan insinyur senior memperbaiki data, membimbing tim, serta memastikan hasil pemeriksaan tidak dibaca mentah mentah.
AI Membutuhkan Data yang Benar
AI belajar dari data. Jika data tidak memuat pengalaman nyata, pola kesalahan lama, dan pengetahuan teknis lapangan, AI akan memberi hasil yang terbatas. Dalam kasus Ford, perusahaan menyadari bahwa pengetahuan para veteran belum sepenuhnya masuk ke sistem otomatis.
Karena itu, Ford tidak hanya mempekerjakan kembali orang berpengalaman untuk bekerja secara manual. Mereka juga diminta membantu memperbaiki data dan cara AI memahami masalah kendaraan.
Perangkat Lunak Mobil Tidak Bisa Asal Cepat
Mobil modern semakin banyak memakai perangkat lunak. Sistem hiburan, bantuan mengemudi, konektivitas, kamera, sensor, sampai kontrol kendaraan bergantung pada kode. Namun, kendaraan bukan ponsel yang bisa diperbaiki cepat setelah masalah muncul.
Perangkat lunak mobil menyangkut keselamatan. Ford menyadari bahwa metode cepat seperti di dunia aplikasi konsumen tidak bisa diterapkan begitu saja. Mobil harus bekerja benar sejak diterima pelanggan.
Kemenangan di J.D. Power Memberi Sinyal Perbaikan
Di tengah pengakuan soal AI, Ford juga mendapat kabar baik. Dalam J.D. Power 2026 U.S. Initial Quality Study, Ford menjadi merek mass market dengan kualitas awal tertinggi. Skornya mencapai 152 masalah per 100 kendaraan, lebih baik dibanding tahun sebelumnya yang berada di angka 193.
Studi J.D. Power mengukur masalah yang dilaporkan pemilik kendaraan baru selama 90 hari pertama pemakaian. Ini menjadi salah satu ukuran penting untuk melihat kualitas awal kendaraan, meski belum menggambarkan ketahanan jangka panjang.
Ford Naik Setelah Bertahun Tahun Tertinggal
Keberhasilan Ford memuncaki merek mass market menjadi pencapaian penting karena perusahaan ini selama beberapa tahun menghadapi sorotan terkait kualitas. Ford bahkan sempat dikenal memiliki jumlah recall yang tinggi dibanding pesaing.
Kenaikan peringkat ini menunjukkan bahwa perubahan cara kerja mulai memberi hasil pada kendaraan baru. Namun, perusahaan masih harus membuktikan bahwa perbaikan itu bertahan dalam jangka panjang melalui penurunan keluhan dan perbaikan garansi.
F150, Mustang, dan Super Duty Ikut Menonjol
Dalam studi tersebut, beberapa model Ford juga meraih penghargaan di segmennya, termasuk Ford F150, Ford Mustang, dan Ford Super Duty. Keberhasilan model model ini penting karena semuanya merupakan produk kuat dalam portofolio Ford.
F150 dan Super Duty berperan besar di pasar truk Amerika. Mustang membawa nilai citra merek. Jika kualitas awal model model tersebut membaik, Ford mendapat modal reputasi yang lebih kuat di mata konsumen.
Recall Masih Menjadi Bayangan Besar
Meski mendapat hasil baik dalam studi kualitas awal, Ford masih berhadapan dengan persoalan recall. Pada 2026, Ford tercatat masih memimpin jumlah recall di industri otomotif Amerika Serikat dengan 51 recall. Jumlah ini jauh di atas beberapa pesaing utama.
Ford menyebut banyak recall saat ini berkaitan dengan kendaraan dan platform lama yang dirancang pada periode sebelumnya. Dengan kata lain, hasil perbaikan kualitas pada kendaraan baru belum langsung menghapus persoalan dari kendaraan yang sudah beredar.
Recall Adalah Indikator yang Terlambat
Recall sering muncul setelah kendaraan dipakai bertahun tahun. Masalah yang tidak terlihat saat desain atau produksi bisa baru diketahui ketika ribuan kendaraan berada di jalan. Karena itu, Ford menyebut recall sebagai indikator yang muncul belakangan.
Hal ini membuat publik perlu membaca pencapaian Ford dengan hati hati. Peringkat J.D. Power menunjukkan peningkatan pada kualitas awal kendaraan baru, tetapi angka recall menunjukkan masih ada pekerjaan besar yang belum selesai.
Biaya Garansi Menjadi Tekanan Keuangan
Masalah kualitas tidak hanya mengganggu konsumen. Bagi perusahaan, garansi dan recall dapat menggerus keuangan. Setiap kendaraan yang harus diperbaiki membawa biaya suku cadang, tenaga kerja, logistik, administrasi, dan potensi gugatan hukum.
Jika rekrutmen kembali insinyur senior mampu menekan masalah sejak awal, Ford dapat mengurangi beban biaya tersebut. Karena itu, langkah ini bukan sekadar keputusan teknis, tetapi juga keputusan bisnis.
Pelajaran Besar untuk Industri Otomotif
Kisah Ford memberi pelajaran bagi industri otomotif global. AI memang dapat mempercepat analisis, memperluas pengujian, dan membantu menemukan pola. Namun, kualitas kendaraan tetap membutuhkan manusia yang memahami material, proses pabrik, rantai pasok, perilaku konsumen, dan riwayat kegagalan teknis.
Mobil adalah produk yang sangat kompleks. Di dalamnya ada mesin, baterai, kabel, sensor, layar, perangkat lunak, jok, rem, suspensi, kamera, dan ribuan komponen lain. Setiap bagian harus bekerja bersama dalam kondisi panas, dingin, hujan, macet, jalan rusak, dan penggunaan harian yang sulit ditebak.
Teknologi Tidak Menggantikan Tanggung Jawab
AI dapat memberi peringatan, tetapi keputusan akhir tetap harus dipikul manusia. Jika sebuah sistem memberi hasil keliru, perusahaan tidak bisa menyalahkan mesin. Tanggung jawab tetap berada pada produsen.
Ini menjadi alasan Ford memilih menempatkan kembali insinyur senior dalam proses penting. Mereka menjadi lapisan pemeriksaan yang memahami bahwa data tidak selalu lengkap dan setiap keputusan desain dapat memengaruhi keselamatan pelanggan.
Otomotif Membutuhkan Gabungan Mesin dan Pengalaman
Pabrik mobil modern tidak mungkin menolak otomatisasi. Robot, sensor, kamera, simulasi digital, dan AI sudah menjadi bagian dari produksi. Namun, Ford memberi contoh bahwa teknologi terbaik tetap perlu dipandu pengalaman manusia.
AI unggul dalam membaca data besar. Insinyur senior unggul dalam membaca kejanggalan kecil, mengingat kasus lama, dan melihat hubungan antarsistem. Gabungan keduanya dapat menghasilkan kualitas yang lebih kuat.
Mengapa Pengalaman Senior Sulit Diganti
Pengalaman teknis tidak selalu tertulis dalam manual. Seorang insinyur senior mungkin tahu bahwa komponen tertentu rawan gagal karena pernah melihatnya dalam cuaca dingin. Ia mungkin tahu satu sambungan kabel terlihat aman di desain, tetapi sulit dipasang oleh pekerja pabrik. Ia mungkin mengenali suara, getaran, atau pola kerusakan yang belum tercatat sebagai data resmi.
Pengetahuan seperti ini sering disebut pengetahuan institusional. Ia hidup dalam orang orang yang lama bekerja di sebuah perusahaan. Ketika mereka pergi tanpa proses transfer yang baik, perusahaan kehilangan sesuatu yang tidak langsung terlihat.
Dokumen Tidak Selalu Cukup
Perusahaan besar memiliki dokumen desain, standar kualitas, laporan pengujian, dan basis data masalah. Namun, dokumen tidak selalu menjelaskan alasan di balik keputusan teknis. Kadang yang tersisa hanya angka, sementara pengalaman di balik angka sudah hilang.
Inilah yang sempat dialami Ford. AI diberi data dan persyaratan, tetapi tidak selalu mendapat pemahaman lengkap tentang mengapa satu bagian harus dicurigai, mengapa dua sistem perlu diuji bersama, atau mengapa masalah kecil dapat menjadi besar setelah kendaraan dipakai.
Pensiun Tanpa Transfer Ilmu Menjadi Risiko
Saat pekerja senior pensiun, perusahaan harus memastikan ilmu mereka tidak ikut pergi. Transfer pengetahuan bisa dilakukan lewat program mentor, dokumentasi kasus, tinjauan desain bersama, dan pelatihan teknis lintas generasi.
Ford kini tampaknya membayar biaya dari kurangnya perhatian pada proses itu. Memanggil kembali ratusan spesialis adalah cara untuk menambal lubang pengetahuan yang sempat terbuka.
Perusahaan boleh membeli perangkat AI tercanggih, tetapi pengalaman puluhan tahun tidak bisa diunduh dalam semalam.
AI di Dunia Kerja Tidak Selalu Menghapus Pekerjaan
Cerita Ford juga memberi warna berbeda dalam perdebatan soal AI dan pekerjaan. Banyak perusahaan memakai AI untuk menggantikan sebagian tugas manusia. Namun, dalam kasus Ford, penggunaan AI justru memperlihatkan kebutuhan baru terhadap pekerja senior.
AI dapat mengurangi pekerjaan rutin, tetapi pekerjaan yang membutuhkan pertimbangan, tanggung jawab, dan pengalaman mendalam tetap bernilai tinggi. Bahkan, ketika AI gagal membaca masalah, manusia berpengalaman kembali dicari.
Pekerjaan yang Berubah, Bukan Sekadar Hilang
Dalam kasus Ford, insinyur senior tidak hanya mengerjakan tugas lama. Mereka juga membantu melatih sistem, memperbaiki data, dan membimbing tim dalam lingkungan kerja yang semakin digital. Artinya, pekerjaan berubah mengikuti teknologi.
Karyawan yang memahami bidang teknis dan mampu bekerja dengan alat AI akan memiliki posisi penting. Mereka menjadi penghubung antara pengetahuan manusia dan kemampuan komputasi mesin.
Junior Tetap Membutuhkan Pembimbing
Insinyur muda dapat sangat mahir memakai perangkat digital, tetapi pengalaman lapangan tetap membutuhkan waktu. Tanpa mentor, mereka bisa terlalu percaya pada hasil sistem atau melewatkan tanda kecil yang sebenarnya penting.
Ford menempatkan kembali mentor senior agar transfer ilmu terjadi. Ini bukan hanya membantu kualitas kendaraan, tetapi juga menjaga kelangsungan keahlian di dalam perusahaan.
Reputasi Ford Dipertaruhkan
Ford adalah salah satu merek otomotif paling bersejarah di dunia. Nama besar itu membawa tanggung jawab besar. Ketika kualitas turun dan recall meningkat, reputasi perusahaan ikut dipertanyakan. Konsumen truk, SUV, dan mobil sport Ford mengharapkan kendaraan yang kuat, aman, dan tahan digunakan.
Karena itu, langkah merekrut kembali insinyur senior dapat dibaca sebagai upaya membangun ulang kepercayaan. Ford ingin menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya mengejar teknologi, tetapi juga bersedia memperbaiki kesalahan pendekatan.
Konsumen Melihat Hasil, Bukan Alasan
Bagi konsumen, penjelasan soal AI, data, dan sistem internal mungkin terdengar jauh. Yang mereka rasakan hanya satu, kendaraan bermasalah atau tidak. Jika mobil harus masuk bengkel berulang, reputasi merek akan turun.
Ford perlu memastikan perbaikan kualitas benar benar terasa pada pengguna. Studi J.D. Power memberi sinyal awal, tetapi pengalaman pemilik kendaraan di jalan akan menjadi penilaian yang lebih keras.
Dealer dan Bengkel Ikut Menanggung Beban
Ketika recall tinggi, dealer dan bengkel resmi ikut sibuk. Mereka harus menangani keluhan, memesan komponen, menjadwalkan perbaikan, dan menjelaskan kepada pelanggan. Jika kualitas awal membaik, beban layanan purna jual dapat lebih ringan.
Karena itu, keputusan Ford memperkuat kualitas sejak desain tidak hanya menguntungkan pabrik. Jaringan dealer dan pelanggan juga akan merasakan hasilnya jika masalah berkurang.
Ford Tidak Sendirian Menghadapi Kompleksitas Mobil Modern
Mobil modern semakin rumit. Produsen harus menggabungkan mesin konvensional, elektrifikasi, perangkat lunak, layar besar, sistem bantuan pengemudi, konektivitas, dan berbagai fitur keselamatan. Semakin banyak fitur, semakin banyak titik yang bisa bermasalah.
Masalah infotainment seperti koneksi Android Auto dan Apple CarPlay juga masih menjadi keluhan umum di industri. Ini menunjukkan bahwa kualitas kendaraan kini tidak hanya tentang mesin dan rangka, tetapi juga pengalaman digital di kabin.
Software Menjadi Sumber Keluhan Baru
Dulu, pembeli sering menilai mobil dari mesin, transmisi, suspensi, dan kenyamanan. Kini, layar, sistem navigasi, kamera, koneksi ponsel, dan pembaruan perangkat lunak ikut menentukan kepuasan. Jika sistem digital lambat atau sering gagal terhubung, konsumen langsung kecewa.
Ford menyadari bahwa kualitas perangkat lunak harus dikelola dengan standar otomotif, bukan standar aplikasi biasa. Mobil tidak boleh menunggu keluhan pelanggan untuk kemudian diperbaiki belakangan.
Tim Software dan Hardware Harus Menyatu
Mobil tidak bisa dipisahkan antara perangkat keras dan perangkat lunak. Sensor harus bekerja dengan kode. Tombol harus berbicara dengan layar. Kamera harus berhubungan dengan sistem keselamatan. Jika tim bekerja terpisah, masalah mudah lolos.
Ford kini mendorong tim software, engineering, manufaktur, dan rantai pasok bekerja lebih dekat. Perubahan ini menjadi bagian penting dari upaya memperbaiki kualitas.
Apa Artinya bagi Perusahaan Lain
Pengalaman Ford dapat menjadi peringatan bagi perusahaan di luar otomotif. AI bisa menjadi alat kuat, tetapi tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan pengetahuan manusia. Sistem canggih tetap membutuhkan data yang benar, pengawasan, dan orang yang memahami pekerjaan inti.
Perusahaan yang terlalu cepat mengganti pekerja berpengalaman dengan otomatisasi dapat kehilangan kemampuan membaca masalah. Ketika kesalahan muncul, biaya memperbaikinya bisa lebih besar daripada penghematan awal.
AI Perlu Diawasi Orang yang Paham Bidang
AI umum tidak cukup untuk pekerjaan teknis mendalam. Di otomotif, kesehatan, keuangan, energi, dan manufaktur, keputusan harus dibaca oleh ahli bidang. Kesalahan tidak hanya membuat laporan keliru, tetapi bisa merugikan pelanggan, perusahaan, dan keselamatan publik.
Ford memberi contoh bahwa AI paling berguna ketika dipadukan dengan orang yang tahu apa yang harus dicari. Tanpa itu, AI dapat terlihat pintar tetapi melewatkan persoalan penting.
Efisiensi Tidak Boleh Menghapus Ingatan Perusahaan
Banyak perusahaan ingin bergerak lebih ramping. Namun, memangkas terlalu banyak orang senior dapat membuat organisasi kehilangan ingatan teknis. Pengetahuan yang dibangun puluhan tahun tidak selalu bisa diganti dengan perangkat baru.
Ford kini mencoba membangun kembali lapisan itu. Perusahaan lain dapat belajar bahwa efisiensi harus dihitung bersama risiko kehilangan keahlian.
Arah Baru Ford dalam Menjaga Kualitas
Ford kini berada pada fase penting. Perusahaan mendapat pengakuan dari studi kualitas awal, tetapi masih dibayangi angka recall tinggi. Rekrutmen lebih dari 350 spesialis senior menjadi tanda bahwa Ford ingin menggabungkan AI, otomatisasi, dan pengalaman manusia dalam satu sistem kualitas yang lebih kuat.
Langkah ini akan dinilai dari hasil nyata. Apakah recall menurun, biaya garansi berkurang, keluhan pelanggan mereda, dan kendaraan baru lebih andal dalam pemakaian harian. Pengakuan bahwa AI tidak cukup menjadi awal, tetapi pekerjaan berat ada pada pelaksanaan.
Teknologi Tetap Dipakai dengan Cara Lebih Sehat
Ford tetap memakai AI untuk pengujian dan validasi. Namun, perusahaan kini lebih berhati hati menempatkan teknologi tersebut. AI tidak lagi diperlakukan sebagai jawaban tunggal, melainkan sebagai alat yang harus dilatih, diperiksa, dan diperkaya dengan pengalaman manusia.
Cara ini terlihat lebih seimbang. Ford tidak anti AI, tetapi juga tidak lagi menutup mata terhadap batasnya.
Ratusan Insinyur Senior Jadi Penjaga Mutu
Lebih dari 350 insinyur dan spesialis senior kini menjadi bagian penting dari perubahan Ford. Mereka membawa pengalaman yang tidak dimiliki sistem otomatis, sekaligus membantu AI belajar dari masalah nyata. Peran mereka membuktikan bahwa keahlian manusia tetap menjadi aset mahal di tengah derasnya teknologi.
Ford pernah terlalu percaya pada AI untuk menjaga kualitas. Kini, perusahaan itu kembali mencari manusia berpengalaman untuk memastikan mobil yang keluar dari pabrik lebih siap menghadapi jalan, pelanggan, dan standar keselamatan yang tidak bisa ditawar.
