Komdigi Periksa iMessage, Siri dan Safari, Cek Risiko Anak Kementerian Komunikasi dan Digital mulai memverifikasi 14 layanan digital milik Apple sebagai bagian dari penerapan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP TUNAS. Layanan yang masuk pemeriksaan mencakup iMessage, Safari, Siri, Apple Music, Apple TV, serta sejumlah fitur lain dalam ekosistem Apple.
Pemeriksaan ini menjadi perhatian karena menyentuh perangkat yang sangat dekat dengan kehidupan keluarga. iPhone, iPad, dan Mac bukan hanya dipakai orang dewasa untuk bekerja, tetapi juga dipakai anak untuk belajar, berkomunikasi, mencari hiburan, membuka situs, mengirim pesan, dan memakai asisten digital. Karena itu, pemerintah menilai layanan digital besar perlu diuji dari sisi keamanan anak, bukan hanya dari sisi teknologi dan bisnis.
Komdigi Mulai Verifikasi 14 Layanan Apple
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyampaikan bahwa dokumen mengenai 14 layanan dan fitur produk Apple telah diterima pemerintah. Dokumen tersebut kini masuk tahap evaluasi. Pembahasan juga dilakukan dalam pertemuan Meutya dengan Managing Director Apple Asia Pacific Mike Orgill di Kantor Komdigi, Jakarta Pusat, pada Rabu, 1 Juli 2026.
Verifikasi ini tidak dilakukan dengan cara menilai Apple sebagai satu kesatuan besar. Komdigi memilih memeriksa setiap layanan secara terpisah. Cara tersebut dipakai karena iMessage, Safari, Siri, Apple Music, dan Apple TV memiliki fungsi yang berbeda. Risiko yang muncul dari layanan percakapan tentu tidak sama dengan risiko dari peramban web atau layanan hiburan.
Tiap Layanan Diperiksa Sendiri
Komdigi memakai pendekatan berbasis risiko. Artinya, satu layanan akan dilihat berdasarkan karakteristik, fitur, jenis interaksi, jenis konten, serta kemungkinan paparan terhadap anak. Dengan pola seperti itu, penilaian terhadap iMessage akan berfokus pada komunikasi, sementara Safari lebih banyak terkait akses situs dan pencarian informasi.
Siri juga memiliki posisi yang berbeda. Layanan asisten suara ini dapat membantu anak mencari jawaban, membuka aplikasi, menjalankan perintah, atau mengakses informasi dari internet. Jika fiturnya semakin pintar dan terhubung dengan kecerdasan buatan, batas keamanan bagi pengguna anak perlu lebih jelas.
Target Evaluasi Sekitar Satu Bulan
Komdigi menargetkan proses verifikasi dokumen Apple dapat selesai dalam waktu sekitar satu bulan. Hasil evaluasi akan menjadi dasar penetapan tingkat risiko masing masing layanan. Dari sana, pemerintah dapat menilai apakah fitur yang beroperasi di Indonesia sudah memenuhi prinsip perlindungan anak dalam PP TUNAS.
Langkah ini tidak hanya berlaku sebagai pemeriksaan administratif. Pemerintah ingin memastikan layanan digital yang dipakai anak di Indonesia memiliki pengaturan usia, pengawasan orang tua, pembatasan konten, dan saluran pelaporan yang mudah dipahami.
PP TUNAS Menjadi Dasar Pemeriksaan
PP TUNAS hadir untuk memperkuat perlindungan anak di ruang digital. Aturan ini menempatkan kepentingan terbaik anak sebagai prioritas utama. Platform digital diminta menilai risiko, mengatur akun sesuai usia, menyediakan kontrol orang tua, serta memberi mekanisme pelaporan yang mudah diakses.
Bagi pemerintah, anak tidak boleh diperlakukan sama dengan pengguna dewasa. Mereka belum selalu mampu memahami iklan terselubung, percakapan berbahaya, manipulasi, konten dewasa, kekerasan visual, atau permintaan data pribadi. Karena itu, layanan digital harus ikut bertanggung jawab membangun pagar yang lebih kuat.
Anak Indonesia Jumlahnya Besar
Komdigi menyebut Indonesia memiliki sekitar 70 juta anak berusia di bawah 16 tahun dan sekitar 85 juta anak di bawah 18 tahun. Jumlah itu sangat besar. Jika sebagian besar dari mereka mulai memakai internet sejak usia dini, ruang digital menjadi lingkungan tumbuh yang tidak kalah penting dari rumah dan sekolah.
Kondisi tersebut membuat regulasi tidak bisa hanya menunggu masalah muncul. Pemerintah ingin platform mengukur risiko sejak awal. Dalam layanan yang dipakai anak, keselamatan harus menjadi bagian dari desain, bukan tambahan setelah terjadi keluhan.
Tidak Menghambat Inovasi
Meutya Hafid menekankan bahwa perlindungan anak harus berjalan bersama inovasi teknologi dan investasi. Pemerintah ingin perusahaan global tetap beroperasi dan berkembang di Indonesia, tetapi dengan menghormati hukum nasional serta mengutamakan keselamatan pengguna anak.
Sikap ini penting karena teknologi tidak mungkin dihentikan. Anak tetap akan memakai perangkat digital. Yang dibutuhkan adalah pengaturan agar perangkat itu tidak membuka akses terlalu luas sebelum anak siap memahami isi dan risikonya.
iMessage dan Percakapan yang Perlu Diawasi
iMessage menjadi salah satu layanan yang paling sensitif karena berkaitan langsung dengan komunikasi pribadi. Anak dapat menerima pesan dari teman, keluarga, nomor baru, atau akun yang belum dikenal. Dalam ruang percakapan, risiko tidak hanya datang dari kata kata, tetapi juga gambar, video, tautan, ajakan, dan permintaan data pribadi.
Pesan pribadi sering sulit diawasi karena berlangsung cepat dan terasa intim. Orang tua tidak selalu tahu siapa yang menghubungi anak, apa isi percakapan, dan apakah anak sedang ditekan untuk merespons sesuatu. Karena itu, fitur komunikasi dalam perangkat anak perlu memiliki lapisan pengamanan yang jelas.
Konten Sensitif Bisa Masuk Lewat Pesan
Apple menyebut fitur Communication Safety sudah dapat mengaburkan konten ketelanjangan yang terdeteksi dalam Messages dan FaceTime untuk pengguna anak, dan pembaruan berikutnya akan memperluas intervensi terhadap konten berdarah atau kekerasan visual. Fitur seperti ini penting karena anak tidak selalu siap melihat gambar yang mengejutkan atau merendahkan martabat.
Namun, teknologi deteksi tidak boleh dipandang sebagai satu satunya pelindung. Anak tetap perlu diberi pemahaman bahwa mereka berhak menolak pesan yang membuat tidak nyaman. Mereka juga perlu tahu kepada siapa harus melapor bila menerima ancaman, pelecehan, atau ajakan berbahaya.
Kontak Baru Perlu Persetujuan
Dalam pembaruan yang diumumkan Apple, orang tua dapat mengelola siapa saja yang dapat berkomunikasi dengan anak melalui Messages, FaceTime, dan Phone. Anak juga dapat diminta meminta persetujuan sebelum terhubung dengan kontak baru. Pengaturan ini menjadi penting karena banyak persoalan keselamatan bermula dari orang asing yang masuk lewat jalur komunikasi.
Bagi keluarga, fitur seperti ini dapat menjadi pagar awal. Bukan untuk mengurung anak, tetapi untuk memberi jeda sebelum hubungan digital baru terbentuk. Jeda itu memberi kesempatan orang tua bertanya, mengenali pihak yang menghubungi anak, dan memastikan percakapan tetap aman.
Safari dan Akses Web yang Terbuka Luas
Safari menjadi pintu besar menuju internet. Melalui peramban ini, anak dapat membuka situs belajar, video, forum, toko daring, permainan, konten hiburan, dan informasi umum. Namun, akses yang sama juga dapat membawa anak ke situs dewasa, konten kekerasan, judi, penipuan, atau halaman yang meminta data pribadi.
Karena Safari bersifat terbuka, risikonya berbeda dari aplikasi yang hanya menyediakan konten dalam ruang tertutup. Anak dapat berpindah dari satu tautan ke tautan lain hanya dalam beberapa detik. Inilah alasan peramban web perlu mendapat perhatian khusus dalam verifikasi Komdigi.
Ask to Browse Menjadi Fitur Penting
Apple memperkenalkan Ask to Browse, fitur yang memungkinkan orang tua mewajibkan anak meminta izin sebelum membuka situs baru. Fitur ini dapat membantu keluarga mengatur akses web secara lebih bertahap. Anak tetap dapat belajar menjelajah internet, tetapi tidak dilepas tanpa batas.
Pengaturan seperti ini cocok untuk anak yang baru mulai memakai perangkat sendiri. Orang tua dapat membuka akses ke situs pendidikan, sekolah, atau hiburan yang aman, lalu meninjau permintaan baru ketika anak ingin membuka halaman lain.
Pembatasan Situs Dewasa Tetap Diperlukan
Apple Support menjelaskan bahwa orang tua dapat mengatur Web Content menjadi Unrestricted, Limit Adult Websites, atau Only Approved Websites. Untuk anak, dua pilihan terakhir lebih relevan. Pembatasan situs dewasa membantu mencegah anak masuk ke halaman yang belum sesuai usia.
Namun, pemblokiran otomatis tidak selalu sempurna. Ada situs berbahaya yang lolos, ada pula situs aman yang bisa ikut tertahan. Karena itu, pengawasan orang tua tetap diperlukan. Fitur digital membantu, tetapi tidak menggantikan percakapan keluarga.
Siri dan Tantangan Asisten Digital
Siri tidak lagi sekadar alat untuk menyalakan alarm atau menanyakan cuaca. Asisten digital dapat membantu mencari informasi, membuka aplikasi, menjawab pertanyaan, mengirim pesan, atau menjalankan perintah. Semakin cerdas sebuah asisten digital, semakin penting pula batas penggunaannya bagi anak.
Komdigi perlu melihat bagaimana Siri bekerja untuk anak Indonesia. Pertanyaan yang perlu dijawab antara lain apakah Siri dapat membatasi jawaban tertentu, apakah pencarian web anak dapat disaring, apakah bahasa eksplisit dapat dikendalikan, dan apakah orang tua dapat mengatur penggunaan fitur kecerdasan buatan.
Siri dan Konten Pencarian
Apple menyediakan pengaturan untuk membatasi Intelligence and Siri, termasuk Siri and Dictation, Web Search Content, Explicit Language, Image Creation, Writing Tools, dan Intelligence Extensions. Pengaturan ini penting karena anak dapat meminta jawaban dalam banyak bentuk, mulai dari teks, suara, sampai bantuan membuat konten.
Jika anak memakai asisten digital tanpa batas, ia bisa menerima informasi yang belum sesuai usia. Risiko lain adalah anak terlalu bergantung pada jawaban instan tanpa memeriksa sumber. Karena itu, pembatasan usia dan arahan orang tua menjadi bagian penting.
Batas untuk Kecerdasan Buatan
Ketika fitur kecerdasan buatan masuk lebih dalam ke perangkat, anak dapat memakai alat untuk menulis, membuat gambar, mencari informasi, atau mengolah perintah. Hal ini bisa membantu proses belajar, tetapi juga membuka ruang baru untuk konten yang tidak pantas, jawaban keliru, atau penggunaan yang belum matang.
Di sinilah evaluasi Komdigi menjadi relevan. Pemerintah perlu memastikan fitur cerdas tidak hanya hebat secara teknologi, tetapi juga memiliki pagar usia, kendali keluarga, dan penjelasan yang mudah dipahami pengguna Indonesia.
Kecanggihan perangkat bukan alasan untuk mengurangi kewajiban perlindungan. Justru semakin kuat sebuah teknologi, semakin serius pula tanggung jawabnya terhadap anak.
Apple Menyiapkan Fitur Keamanan Anak
Apple menyatakan perlindungan anak merupakan salah satu prioritas utama perusahaan secara global. Mike Orgill menyebut Apple siap mengikuti proses evaluasi dan berdiskusi dengan pemerintah Indonesia apabila masih ada pertanyaan selama verifikasi berlangsung.
Apple juga telah mengumumkan sejumlah pembaruan fitur keamanan anak yang akan hadir melalui sistem operasi terbaru. Fitur itu mencakup Child Account, parental controls, Screen Time yang dibuat ulang, Time Allowances, Ask to Browse, serta peningkatan deteksi konten sensitif.
Child Account sebagai Langkah Awal
Child Account menjadi fondasi penting. Dengan akun anak, perangkat dapat menerapkan perlindungan berdasarkan usia. Apple menyebut pengaturan seperti pembatasan situs dewasa, batas konten media, serta batas usia aplikasi dapat diterapkan sejak awal.
Bagi orang tua, membuat akun anak jauh lebih aman dibanding memberikan akun dewasa kepada anak. Banyak keluarga sering melewati langkah ini karena ingin cepat memakai perangkat. Padahal, akun dewasa membuat perangkat kehilangan banyak pagar keamanan yang seharusnya aktif untuk anak.
Screen Time Dibuat Lebih Mudah Dibaca
Apple juga mendesain ulang Screen Time agar orang tua bisa melihat pemakaian perangkat anak secara lebih jelas. Orang tua dapat melihat rata rata penggunaan, aplikasi yang paling sering dipakai, serta mengatur akses aplikasi dan web dengan lebih cepat.
Fitur ini penting karena masalah anak di ruang digital tidak hanya terkait konten, tetapi juga durasi. Anak dapat menghabiskan waktu berjam jam pada permainan, video pendek, atau media sosial. Pengaturan waktu membantu keluarga membuat batas sehat tanpa harus bertengkar setiap hari.
Risiko bagi Anak Tidak Sama di Tiap Layanan
Pemeriksaan Komdigi terhadap layanan Apple perlu dibaca sebagai upaya memetakan risiko secara rinci. iMessage menghadirkan risiko komunikasi. Safari menghadirkan risiko akses situs. Siri menghadirkan risiko jawaban dan pencarian. Apple Music, Apple TV, dan layanan hiburan lain menghadirkan risiko klasifikasi usia, lirik eksplisit, tayangan dewasa, dan rekomendasi konten.
Jika semua layanan dinilai sama, hasilnya bisa tidak akurat. Layanan hiburan membutuhkan pembatasan rating. Layanan pesan membutuhkan kontrol kontak.
Risiko Konten
Anak bisa terpapar konten dewasa, kekerasan, bahasa kasar, ujaran kebencian, tantangan berbahaya, atau informasi yang belum sesuai usia. Konten semacam ini tidak selalu dicari secara sengaja. Kadang masuk lewat tautan, rekomendasi, pesan teman, atau pencarian yang salah arah.
Karena itu, platform harus menyediakan pengaturan konten berdasarkan usia. Orang tua juga perlu memahami cara mengaktifkannya, bukan hanya menyerahkan perangkat setelah dibeli.
Risiko Komunikasi
Percakapan digital memberi anak ruang bersosialisasi, tetapi juga membuka potensi perundungan, manipulasi, pelecehan, penipuan, dan kontak dari orang asing. Dalam hal ini, fitur persetujuan kontak baru, pelaporan, dan pembatasan komunikasi menjadi sangat penting.
Anak perlu diajari bahwa tidak semua pesan harus dijawab. Mereka juga perlu tahu bahwa meminta bantuan bukan tanda lemah. Saat anak merasa aman bercerita, keluarga lebih mudah mencegah masalah membesar.
Orang Tua Tetap Menjadi Garda Terdepan
Regulasi pemerintah dan fitur platform tidak akan cukup tanpa keterlibatan orang tua. Perangkat digital berada di rumah, di kamar, di tas sekolah, dan di tangan anak setiap hari. Orang tua perlu memahami pengaturan dasar, berdialog dengan anak, serta membuat aturan keluarga yang realistis.
Banyak orang tua merasa tertinggal karena anak lebih cepat memahami teknologi. Namun, pengawasan tidak selalu berarti harus menguasai semua fitur teknis. Yang paling penting adalah membangun kebiasaan terbuka, membuat batas waktu, dan menjelaskan alasan aturan.
Jangan Berikan Akun Dewasa kepada Anak
Kesalahan umum dalam keluarga adalah memberikan akun dewasa kepada anak agar proses pengaturan lebih cepat. Cara ini membuat banyak fitur perlindungan usia tidak berjalan. Anak dapat melihat konten yang seharusnya dibatasi atau mengunduh aplikasi yang belum sesuai umur.
Orang tua sebaiknya memakai Family Sharing dan Child Account. Dengan cara itu, pengaturan pembelian, unduhan aplikasi, kontak, lokasi, waktu layar, dan konten dapat dibuat lebih sesuai usia.
Cek Pengaturan Secara Berkala
Pengaturan keamanan perlu diperiksa ulang. Anak bertambah usia, aplikasi berubah, sistem operasi diperbarui, dan kebiasaan penggunaan bergeser. Orang tua perlu mengecek Screen Time, Content and Privacy Restrictions, Web Content, Communication Safety, serta Intelligence and Siri.
Pemeriksaan berkala tidak harus dilakukan setiap hari. Namun, satu kali dalam beberapa pekan dapat membantu orang tua memahami pola penggunaan perangkat anak. Jika ada perubahan mencurigakan, percakapan dapat dilakukan lebih cepat.
Sekolah Juga Perlu Terlibat
Perangkat Apple banyak dipakai untuk kegiatan belajar, baik melalui iPad, Mac, maupun iPhone. Karena itu, sekolah juga memiliki peran. Guru dan pengelola sekolah perlu memberi pemahaman tentang etika digital, keamanan pesan, pencarian informasi, dan perlindungan data pribadi.
Anak tidak hanya perlu tahu cara memakai perangkat, tetapi juga cara bersikap di ruang digital. Mereka harus memahami bahwa foto pribadi tidak boleh disebar sembarangan, tautan mencurigakan harus dihindari, dan percakapan dengan orang asing perlu disikapi hati hati.
Literasi Digital Harus Dekat dengan Kehidupan Anak
Materi literasi digital sebaiknya tidak terlalu teoritis. Anak perlu contoh yang dekat dengan keseharian. Misalnya, apa yang harus dilakukan jika menerima gambar mengganggu, bagaimana menolak ajakan dari akun tidak dikenal, atau bagaimana meminta izin orang tua sebelum membuka situs baru.
Dengan cara seperti itu, anak tidak hanya mendengar aturan, tetapi memahami langkah nyata. Sekolah dan orang tua dapat memakai bahasa yang sama agar anak tidak bingung.
Guru Perlu Paham Fitur Dasar
Guru tidak harus menjadi teknisi perangkat Apple. Namun, pemahaman dasar tentang pembatasan konten, waktu layar, dan keamanan komunikasi akan membantu saat sekolah menganjurkan penggunaan perangkat digital. Jika guru paham fitur dasar, mereka dapat memberi arahan yang lebih aman kepada siswa dan orang tua.
Dalam penggunaan perangkat untuk belajar, keamanan tidak boleh menjadi urusan tambahan. Ia harus menjadi bagian dari cara sekolah mengelola teknologi.
Platform Global Harus Mengikuti Hukum Indonesia
Pemeriksaan Apple oleh Komdigi memperlihatkan bahwa platform global yang beroperasi di Indonesia harus menyesuaikan diri dengan hukum nasional. Perusahaan teknologi besar tidak cukup membawa standar global. Mereka juga perlu memastikan layanan mereka sesuai dengan kebutuhan perlindungan anak di Indonesia.
Hal ini bukan hanya soal Apple. Sebelumnya, pemerintah juga mendorong kepatuhan platform lain seperti Google, YouTube, Meta, TikTok, dan Roblox dalam implementasi PP TUNAS. Artinya, verifikasi Apple merupakan bagian dari gerakan lebih luas.
Self Assessment Tidak Boleh Sekadar Formalitas
Platform digital diminta menyampaikan penilaian kepatuhan. Namun, pemerintah menekankan bahwa komitmen harus diikuti langkah nyata. Dalam penerapan PP TUNAS, platform perlu menunjukkan fitur, prosedur, pelaporan, pengaturan usia, dan penyesuaian layanan yang dapat diuji.
Jika hanya berhenti pada pernyataan, perlindungan anak tidak akan terasa di perangkat yang digunakan sehari hari. Yang dibutuhkan publik adalah perubahan nyata pada layar, pengaturan, dan pengalaman penggunaan.
Sanksi Menjadi Bagian dari Kepatuhan
PP TUNAS juga mengenal sanksi bagi platform yang melanggar aturan. Sanksi diperlukan agar kewajiban perlindungan tidak dianggap pilihan sukarela. Platform global perlu memahami bahwa pasar besar seperti Indonesia datang dengan tanggung jawab besar.
Namun, sanksi sebaiknya dilihat sebagai pagar terakhir. Yang lebih penting adalah pencegahan sejak awal melalui desain layanan yang aman bagi anak.
Keseimbangan antara Privasi dan Pengawasan
Isu perlindungan anak selalu berhadapan dengan pertanyaan privasi. Anak berhak atas ruang pribadi, tetapi juga membutuhkan perlindungan. Orang tua perlu mengawasi, tetapi tidak boleh memperlakukan semua aktivitas anak sebagai sesuatu yang harus dicurigai.
Platform seperti Apple sering menekankan privasi sebagai nilai utama. Karena itu, fitur keamanan anak harus dirancang agar melindungi tanpa membuka data anak secara berlebihan. Misalnya, deteksi konten sensitif dapat dilakukan di perangkat, sementara orang tua tetap mendapat alat untuk mengatur batas.
Anak Perlu Dilibatkan dalam Aturan
Aturan perangkat sebaiknya tidak hanya dipasang diam diam. Anak perlu diajak bicara. Jelaskan mengapa situs tertentu dibatasi, mengapa waktu layar perlu diatur, dan mengapa kontak baru harus disetujui. Percakapan semacam ini membuat anak lebih mudah menerima aturan.
Jika anak merasa semua aturan hanya bentuk larangan, mereka bisa mencari cara untuk menghindar. Namun, jika mereka memahami alasan keamanan, peluang kerja sama keluarga menjadi lebih besar.
Privasi Bukan Berarti Bebas Tanpa Batas
Anak tetap berhak dihormati, tetapi kebebasan digital harus bertahap sesuai usia dan kedewasaan. Anak yang lebih kecil membutuhkan pengawasan lebih ketat. Remaja dapat diberi ruang lebih luas, tetapi tetap membutuhkan batas dan jalur bantuan.
Keseimbangan ini tidak mudah. Karena itu, fitur seperti Child Account, Screen Time, Ask to Browse, dan pengaturan kontak dapat menjadi alat bantu bagi keluarga.
Perlindungan anak di ruang digital bukan perang antara orang tua dan anak. Ini adalah kerja bersama agar teknologi tidak menjadi pintu masuk bagi hal yang belum siap mereka hadapi.
Komdigi Perlu Transparan soal Hasil Evaluasi
Setelah verifikasi selesai, publik perlu mengetahui gambaran hasilnya. Tidak semua detail teknis harus dibuka, tetapi masyarakat berhak tahu apakah layanan yang dipakai anak telah memenuhi standar perlindungan. Informasi yang jelas akan membantu orang tua mengambil keputusan.
Komdigi dapat menjelaskan klasifikasi risiko masing masing layanan, fitur apa yang perlu diperbaiki, dan apa yang sudah sesuai. Penjelasan ini penting agar pemeriksaan tidak hanya terdengar sebagai urusan pemerintah dan perusahaan.
Bahasa Publik Harus Mudah Dipahami
Hasil evaluasi sebaiknya disampaikan dalam bahasa yang mudah dimengerti. Orang tua tidak selalu memahami istilah teknis seperti sistem operasi, enkripsi, kecerdasan buatan, atau pengelolaan data. Mereka membutuhkan panduan sederhana tentang apa yang harus diaktifkan dan apa yang harus dihindari.
Jika informasi terlalu teknis, keluarga akan sulit menerapkannya. Padahal, sasaran utama perlindungan adalah anak di rumah dan sekolah.
Panduan Lokal Sangat Dibutuhkan
Apple memang memiliki panduan global. Namun, keluarga Indonesia membutuhkan panduan yang sesuai dengan bahasa, kebiasaan, dan aturan lokal. Komdigi dapat bekerja sama dengan platform, sekolah, dan organisasi perlindungan anak untuk membuat materi yang mudah dipakai.
Panduan itu bisa menjelaskan cara membuat akun anak, mengatur Safari, membatasi Siri, mengaktifkan Communication Safety, mengatur Screen Time, dan melaporkan masalah.
Yang Perlu Dicek Keluarga Pengguna Apple
Bagi orang tua yang memakai perangkat Apple di rumah, pemeriksaan Komdigi dapat menjadi pengingat untuk mengecek ulang perangkat anak. Jangan menunggu hasil verifikasi keluar untuk mulai mengatur keamanan dasar. Banyak fitur sudah tersedia dan dapat diaktifkan sekarang.
Langkah pertama adalah memastikan anak memakai akun sesuai usia. Setelah itu, periksa Screen Time, pembatasan konten, web content, kontak, pembelian aplikasi, serta pengaturan Siri. Jika anak memakai iPad untuk belajar, pastikan aplikasi hiburan tidak mengganggu waktu sekolah.
Cek iMessage dan FaceTime
Orang tua perlu melihat siapa saja yang dapat menghubungi anak. Jika memungkinkan, batasi kontak hanya pada keluarga, guru, dan teman yang dikenal. Aktifkan fitur keamanan komunikasi bila tersedia di wilayah dan perangkat yang dipakai.
Ajari anak untuk tidak mengirim foto pribadi kepada siapa pun. Jelaskan bahwa pesan yang membuat takut, malu, atau tertekan harus segera diceritakan kepada orang dewasa tepercaya.
Cek Safari dan Siri
Pada Safari, orang tua dapat memilih pembatasan situs dewasa atau hanya situs yang disetujui. Untuk anak lebih kecil, pilihan situs yang disetujui lebih aman. Pada Siri, batasi bahasa eksplisit, konten pencarian web, dan fitur kecerdasan buatan yang belum diperlukan.
Pengaturan ini tidak harus permanen. Seiring usia dan kedewasaan anak, akses dapat diperluas secara bertahap. Yang penting, perubahan dilakukan dengan percakapan, bukan sekadar membuka semua akses sekaligus.
Saat Negara Memeriksa Perangkat di Tangan Anak
Pemeriksaan Komdigi terhadap iMessage, Siri, Safari, dan layanan Apple lain menunjukkan perubahan cara negara melihat ruang digital. Perlindungan anak tidak lagi cukup dibahas di media sosial atau game. Layanan inti pada perangkat juga perlu dinilai karena anak memakainya setiap hari.
Apple sebagai perusahaan global memiliki teknologi kuat dan fitur keamanan yang terus diperbarui. Namun, pemerintah Indonesia tetap perlu memastikan seluruh fitur tersebut sesuai dengan PP TUNAS dan kebutuhan anak Indonesia. Verifikasi menjadi cara untuk menghubungkan standar global dengan kepentingan nasional.
Perangkat Keluarga Tidak Boleh Dibiarkan Polos
iPhone, iPad, dan Mac sering masuk rumah sebagai alat belajar atau hiburan. Namun, perangkat yang diberikan tanpa pengaturan ibarat pintu terbuka ke seluruh internet. Anak bisa menemukan pengetahuan, tetapi juga bisa tersesat ke ruang yang belum pantas.
Karena itu, orang tua perlu memperlakukan pengaturan keamanan sebagai bagian dari proses membeli perangkat. Sama seperti memasang helm saat anak naik motor, memasang kontrol usia adalah pelindung dasar saat anak masuk ruang digital.
Pemeriksaan Ini Baru Langkah Awal
Verifikasi Komdigi terhadap Apple tidak menyelesaikan semua masalah anak di internet. Namun, langkah ini memberi sinyal bahwa negara mulai meminta perusahaan teknologi besar menjelaskan secara rinci bagaimana mereka melindungi anak. Itu penting karena perangkat digital tidak lagi berada di pinggir kehidupan anak.
Setelah hasil evaluasi keluar, perhatian berikutnya berada pada pelaksanaan. Apakah fitur mudah dipakai keluarga. Apakah platform benar benar menyesuaikan layanan. Dari sanalah perlindungan anak di ruang digital akan terasa, bukan hanya dalam dokumen kebijakan, tetapi di layar yang mereka sentuh setiap hari.
