Karet dan BNI City Segera Terhubung, Ini Perubahan bagi Penumpang KRL PT Kereta Api Indonesia menargetkan integrasi Stasiun Karet dan Stasiun BNI City mulai beroperasi pada 28 September 2026. Proyek tersebut akan mengubah cara penumpang memasuki dan meninggalkan layanan KRL di kawasan Karet, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Perubahan paling besar terletak pada pemusatan aktivitas gerbang elektronik di Stasiun BNI City. Penumpang yang selama ini melakukan tap masuk dan tap keluar melalui Stasiun Karet nantinya akan diarahkan melewati BNI City. Area Karet tetap digunakan, tetapi fungsinya bergeser menjadi akses pendukung dan ruang penghubung.
KAI berencana membangun concourse yang menyatukan kedua area stasiun. Penghubung tersebut dilengkapi travelator atau jalur berjalan otomatis dengan ruang berpendingin udara. Fasilitas itu disiapkan agar penumpang tidak harus berjalan terlalu jauh di ruang terbuka ketika berpindah dari sisi Karet menuju BNI City.
Rencana integrasi tidak semata menggabungkan dua bangunan. KAI juga ingin menata pergerakan penumpang, kendaraan penjemput, ojek, pejalan kaki, serta kegiatan usaha yang selama ini tumbuh di sekitar pintu Stasiun Karet.
Integrasi Ditargetkan Beroperasi pada 28 September 2026
KAI menetapkan 28 September 2026 sebagai target awal pengoperasian sistem terintegrasi Karet dan BNI City. Tanggal tersebut bertepatan dengan peringatan hari ulang tahun ke 81 perusahaan.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menyatakan proyek dikerjakan dengan prinsip kehati hatian. Stasiun Karet bukan sekadar tempat naik dan turun kereta, tetapi telah menjadi bagian dari kegiatan harian pekerja, pedagang, pengemudi ojek, serta masyarakat sekitar.
KAI mengakui setiap perubahan akses harus dilakukan secara bertahap. Pengguna yang telah bertahun tahun terbiasa memasuki peron melalui Karet membutuhkan petunjuk jelas agar tidak kebingungan ketika sistem baru mulai diterapkan.
Target operasional tersebut masih bergantung pada penyelesaian pekerjaan fisik, pengujian fasilitas, pengaturan alur penumpang, dan kesiapan perangkat gerbang. KAI menyatakan pekerjaan integrasi akan dipercepat setelah memperoleh persetujuan yang diperlukan.
Tanggal pengoperasian juga perlu diperhatikan pengguna KRL yang rutin berangkat dari Karet. Mendekati 28 September 2026, penumpang disarankan memeriksa pengumuman resmi mengenai perubahan pintu masuk, jalur pejalan kaki, dan kemungkinan penyesuaian sementara selama pekerjaan berlangsung.
Gerbang Masuk dan Keluar Dipusatkan di BNI City
Perubahan yang paling langsung dirasakan penumpang adalah pemindahan aktivitas tap masuk dan tap keluar ke Stasiun BNI City.
Saat ini, pengguna yang datang dari kawasan Karet Tengsin, Jalan KH Mas Mansyur, atau permukiman sekitar dapat masuk melalui gerbang Stasiun Karet. Setelah integrasi berjalan, perjalanan mereka akan diteruskan melalui koridor penghubung menuju area BNI City.
Gerbang elektronik, pemeriksaan penumpang, dan pengaturan arus akan dipusatkan di satu lokasi. Pemusatan tersebut diharapkan memudahkan pengawasan serta mengurangi pergerakan yang terlalu rapat pada dua stasiun yang jaraknya sangat berdekatan.
Penumpang tidak berarti kehilangan akses dari arah Karet. Area lama tetap disiapkan sebagai pintu pendukung. Perbedaannya, pengguna tidak langsung melakukan transaksi perjalanan di titik tersebut, melainkan berjalan menuju BNI City melalui concourse.
Sistem ini menyerupai bangunan stasiun yang mempunyai beberapa pintu akses, tetapi seluruh penumpang diarahkan menuju satu area gerbang utama sebelum mencapai peron.
Stasiun Karet Tidak Hilang Sepenuhnya
Rencana integrasi sempat menimbulkan anggapan bahwa Stasiun Karet akan ditutup dan tidak lagi dapat digunakan masyarakat. Keterangan terbaru menunjukkan fungsi kawasannya tetap dipertahankan, meski tidak lagi sama seperti sebelumnya.
Area Stasiun Karet akan diarahkan menjadi concourse atau selasar penghubung. Penumpang dari sisi Karet masih dapat menggunakan kawasan tersebut untuk mencapai layanan kereta.
Perubahan fungsi ini membuat bangunan Karet tidak lagi berdiri sebagai titik pelayanan terpisah dengan gerbang sendiri. Karet menjadi bagian dari satu kesatuan fasilitas bersama BNI City.
KAI memilih pendekatan tersebut karena akses dari sisi Karet masih sangat dibutuhkan. Banyak penumpang berasal dari perkantoran, permukiman, hotel, pusat perdagangan, serta jalan di bagian barat jalur rel.
Menghapus akses sepenuhnya dapat membuat pengguna harus memutar lebih jauh. Karena itu, jalur masuk tetap dipertahankan dengan sistem yang lebih tertata.
“Integrasi seharusnya tidak memutus kebiasaan perjalanan warga, tetapi memperbaiki jalurnya agar lebih aman, mudah dipahami, dan nyaman digunakan setiap hari.”
Travelator Berpendingin Udara Disiapkan
Jarak antara kawasan Karet dan BNI City tergolong dekat, tetapi perpindahan tetap dapat terasa melelahkan bagi penumpang lanjut usia, pengguna yang membawa barang, ibu hamil, serta pekerja yang melakukan perjalanan pada jam sibuk.
KAI menyiapkan travelator untuk membantu pergerakan. Jalur berjalan otomatis ini serupa dengan fasilitas yang biasa ditemukan di bandara atau pusat perbelanjaan besar.
Travelator memungkinkan penumpang berdiri sambil bergerak atau berjalan di atas jalur untuk mempercepat waktu tempuh. Fasilitas tersebut akan ditempatkan dalam ruang yang dilengkapi pendingin udara.
Kehadiran ruang tertutup juga melindungi pengguna dari hujan dan panas. Selama ini, perjalanan antartitik di kawasan transportasi Jakarta sering mengharuskan penumpang melewati trotoar terbuka.
Fasilitas tersebut harus dirancang dengan lebar yang memadai agar tidak menimbulkan penumpukan. KAI juga perlu menyediakan jalur biasa bagi pengguna yang memilih berjalan tanpa travelator atau ketika perangkat sedang dalam perawatan.
Peron BNI City Menjadi Titik Pelayanan Utama
Stasiun BNI City telah melayani perjalanan Commuter Line dan Commuter Line Bandara Soekarno Hatta. Setelah integrasi, perannya dalam jaringan kereta perkotaan Jakarta akan semakin besar.
Penumpang dari arah Tanah Abang menuju Manggarai atau sebaliknya dapat menggunakan layanan KRL melalui BNI City. Pengguna dari sisi Karet juga akan diarahkan menuju fasilitas yang sama.
Pemusatan pelayanan membuat pengelola perlu menyiapkan area peron, tangga, eskalator, lift, dan ruang tunggu dengan kapasitas lebih besar. Jumlah pengguna yang sebelumnya terbagi di dua gerbang akan bergerak melalui satu pusat pelayanan.
Pengaturan pintu peron perlu dibuat jelas karena BNI City melayani lebih dari satu jenis perjalanan. Penumpang KRL harian tidak boleh salah mengikuti jalur menuju layanan bandara.
Papan informasi, warna jalur, pengumuman suara, dan petugas lapangan akan menjadi unsur penting pada masa awal perubahan.
Hampir 10 Juta Aktivitas Tercatat dalam Enam Bulan
Kawasan Karet dan BNI City memiliki jumlah pengguna yang sangat besar. KAI mencatat Stasiun Karet melayani 7.257.442 aktivitas masuk dan keluar selama Januari hingga Juni 2026.
Pada periode yang sama, Stasiun BNI City mencatat 2.688.254 aktivitas. Total kedua stasiun mencapai 9.945.696 pergerakan penumpang dalam enam bulan.
Data tersebut menunjukkan Karet masih memiliki jumlah pengguna jauh lebih besar dibandingkan BNI City. Ketika gerbang dipusatkan, jutaan pergerakan tersebut harus ditampung oleh sistem baru.
Pada 2025, Karet mencatat 21.956.607 aktivitas masuk dan keluar. BNI City melayani 7.132.683 aktivitas. Jika digabungkan, kawasan tersebut menangani lebih dari 29 juta aktivitas sepanjang tahun.
Besarnya angka itu menjelaskan mengapa integrasi tidak dapat dilakukan hanya dengan menutup satu gerbang dan memindahkan penumpang. Infrastruktur penghubung harus mampu menangani kepadatan pagi dan sore tanpa menimbulkan antrean panjang.
Jarak Stasiun yang Terlalu Dekat Menjadi Pertimbangan
Stasiun Karet dan BNI City berada pada jalur yang sama dengan jarak sangat dekat. Kereta yang baru meninggalkan satu stasiun hanya memerlukan waktu singkat untuk mencapai stasiun berikutnya.
Jarak pendek memengaruhi pola operasi karena kereta harus kembali mengurangi kecepatan tidak lama setelah berangkat. Proses berhenti, membuka pintu, menunggu penumpang, dan melanjutkan perjalanan membutuhkan waktu pada setiap perjalanan.
KAI menilai integrasi dapat membantu menata operasi agar lebih efisien dan aman. Namun, rincian mengenai perubahan pola pemberhentian kereta setelah 28 September 2026 masih harus menunggu pengumuman resmi.
Pengguna perlu membedakan integrasi akses dengan penghapusan layanan. Informasi yang telah diumumkan menekankan perubahan fungsi Karet sebagai penghubung dan pemusatan gerbang di BNI City.
Apabila terdapat perubahan titik berhenti kereta, jadwal, atau waktu perjalanan, KAI Commuter perlu menyampaikannya melalui aplikasi, stasiun, media sosial, serta pengumuman di dalam rangkaian.
Keselamatan Operasi Menjadi Alasan Utama
KAI menyebut keselamatan sebagai salah satu alasan utama proyek integrasi. Jarak antartitik yang dekat dan tingginya aktivitas di sekitar Karet membutuhkan pengaturan baru.
Saat jam sibuk, area depan Stasiun Karet dipenuhi pejalan kaki, ojek daring, ojek pangkalan, kendaraan penjemput, serta penjual makanan. Ruang jalan yang terbatas dapat menimbulkan pertemuan arus antara kendaraan dan penumpang.
Penumpang yang baru keluar sering langsung berhenti untuk memesan kendaraan atau menunggu jemputan. Keadaan ini dapat menghambat orang yang masih bergerak dari belakang.
Melalui penataan akses, KAI ingin memisahkan jalur berjalan, ruang tunggu, dan pergerakan kendaraan. Pemusatan gerbang juga memudahkan petugas mengatur kepadatan.
Keselamatan di peron turut menjadi perhatian. Dengan alur yang lebih terpusat, petugas dapat memantau jumlah pengguna serta mengarahkan penumpang ketika satu bagian peron terlalu penuh.
Perjalanan Penumpang dari Arah Karet Menjadi Lebih Panjang
Bagi sebagian pengguna, integrasi akan menambah jarak berjalan. Penumpang yang sebelumnya langsung mencapai gerbang Karet perlu melewati penghubung menuju BNI City.
Tambahan jarak dapat terasa bagi pekerja yang mengejar jadwal kereta. Pengguna perlu menyediakan waktu lebih banyak, terutama pada minggu pertama penerapan.
Kehadiran travelator diharapkan mengurangi beban tersebut. Namun, perpindahan tetap memerlukan waktu untuk melewati koridor, gerbang pemeriksaan, dan akses menuju peron.
KAI perlu mencantumkan perkiraan waktu berjalan pada papan petunjuk. Informasi seperti lima menit menuju peron atau posisi gerbang terdekat akan membantu penumpang mengatur perjalanan.
Pada jam sibuk, waktu tempuh dapat bertambah karena kepadatan. Penumpang sebaiknya tidak menggunakan waktu perjalanan berdasarkan kebiasaan lama ketika sistem baru mulai berlaku.
Pengguna dari Sisi BNI City Mendapat Akses Lebih Terpusat
Bagi pengguna yang sejak awal masuk melalui BNI City, perubahan utama berupa peningkatan jumlah penumpang dan penataan ruang.
Mereka akan berbagi gerbang dengan pengguna yang sebelumnya melalui Karet. Antrean berpotensi meningkat jika jumlah mesin tap tidak ditambah.
Pengelola perlu memastikan gerbang dapat membaca kartu uang elektronik dan tiket digital secara cepat. Gangguan pada satu mesin dapat segera memicu antrean panjang ketika ribuan orang tiba hampir bersamaan.
Area pemeriksaan barang juga perlu disesuaikan. Penumpang KRL harian biasanya bergerak cepat, sedangkan pengguna kereta bandara dapat membawa koper besar.
Pemisahan jalur antara pengguna komuter dan penumpang bandara dapat membantu menjaga kelancaran. Petunjuk harus tersedia sejak pintu masuk agar orang tidak berpindah jalur di dekat peron.
Layanan Kereta Bandara Tetap Menjadi Bagian Penting
BNI City merupakan salah satu titik pelayanan Commuter Line Basoetta. Sepanjang semester pertama 2026, layanan tersebut mengangkut 1.197.413 penumpang.
Jumlah itu naik 12,71 persen dibandingkan semester pertama 2025 yang mencatat 1.062.415 penumpang. Pertumbuhan pengguna kereta bandara membuat fungsi BNI City semakin penting dalam jaringan transportasi Jakarta.
Integrasi Karet dapat membuka akses lebih mudah bagi warga dari sisi barat stasiun yang hendak menggunakan kereta menuju Bandara Soekarno Hatta.
Mereka tidak perlu mencari pintu BNI City dari arah yang lebih jauh. Akses Karet dapat menjadi jalur masuk pendukung selama petunjuk menuju layanan bandara dibuat jelas.
Meski demikian, penumpang harus memperhatikan perbedaan tiket dan jadwal. Tiket KRL tidak otomatis berlaku untuk perjalanan kereta bandara.
Hubungan dengan Kawasan Dukuh Atas Semakin Kuat
BNI City berada di kawasan transportasi Dukuh Atas yang menghubungkan sejumlah moda. Di sekitarnya terdapat Stasiun Sudirman, MRT Dukuh Atas BNI, LRT Jabodebek, halte Transjakarta, serta layanan kereta bandara.
Integrasi Karet menambah cakupan kawasan tersebut menuju sisi barat. Penumpang dari permukiman dan perkantoran sekitar Karet memperoleh jalur menuju pusat perpindahan moda yang lebih luas.
Pengguna dapat melanjutkan perjalanan menggunakan MRT menuju Bundaran HI atau Lebak Bulus. Mereka juga dapat berpindah ke LRT Jabodebek menuju Bekasi atau Cibubur melalui akses Dukuh Atas.
Stasiun Sudirman menyediakan pilihan lain untuk layanan KRL. Jalur pejalan kaki dan Terowongan Kendal telah menjadi penghubung penting di kawasan ini.
Pengembangan Karet, BNI City, dan Sudirman termasuk dalam rencana kawasan berbasis transit yang lebih besar. Pemerintah ingin masyarakat dapat berpindah moda dengan berjalan kaki tanpa harus kembali menggunakan kendaraan pribadi.
Ojek dan Kendaraan Penjemput Akan Mengalami Penataan
Perubahan akses penumpang tidak hanya menyentuh pengguna kereta. Pengemudi ojek daring, ojek pangkalan, taksi, dan kendaraan pribadi juga akan menghadapi penataan baru.
Saat ini, banyak kendaraan berhenti di sekitar pintu Karet. Sebagian menunggu penumpang pada bahu jalan yang ruangnya terbatas.
KAI menyatakan kegiatan pengantar dan penjemput menjadi salah satu perhatian dalam integrasi. Area tunggu harus ditata agar tidak menutup jalur pejalan kaki atau menghambat lalu lintas.
Lokasi penjemputan kemungkinan akan ditentukan pada titik khusus. Penumpang perlu memperhatikan petunjuk agar tidak meminta pengemudi berhenti tepat di depan koridor.
Aplikasi transportasi daring juga perlu memperbarui titik penjemputan. Tanpa penyesuaian peta, pengemudi dan penumpang dapat menunggu pada lokasi berbeda.
Pedagang Sekitar Membutuhkan Kepastian
Stasiun Karet telah membentuk kegiatan ekonomi di sekitarnya. Pedagang makanan, minuman, pulsa, dan kebutuhan perjalanan bergantung pada arus penumpang.
Perubahan fungsi dapat menggeser titik keramaian. Jika seluruh gerbang berada di BNI City, sebagian penumpang mungkin tidak lagi berhenti pada lokasi yang sama seperti sebelumnya.
KAI menyatakan penataan dilakukan sambil mendengar masukan masyarakat dan pelaku usaha sekitar. Pendekatan ini penting karena perubahan transportasi dapat memengaruhi penghasilan harian warga.
Pedagang membutuhkan informasi mengenai area yang boleh digunakan, jadwal pekerjaan, serta kemungkinan pemindahan sementara.
Penataan sebaiknya tidak dilakukan mendadak. Ruang usaha dapat diatur agar tidak menghalangi jalur penumpang, tetapi tetap memberi kesempatan kepada pedagang yang telah lama bekerja di kawasan tersebut.
“Perubahan stasiun akan diterima lebih mudah ketika penumpang, pengemudi, dan pedagang mengetahui posisi mereka sebelum sistem baru dijalankan.”
Akses bagi Lansia dan Penyandang Disabilitas Harus Dijaga
Koridor penghubung yang lebih panjang membutuhkan fasilitas ramah bagi semua pengguna. Travelator membantu, tetapi tidak menggantikan kebutuhan lift, jalur kursi roda, pegangan tangan, dan lantai pemandu.
Pengguna kursi roda harus dapat bergerak dari pintu Karet menuju peron tanpa menghadapi tangga. Kemiringan jalur juga perlu memenuhi standar keamanan.
Lansia dan penumpang dengan keterbatasan gerak membutuhkan tempat duduk pada beberapa titik. Koridor panjang tanpa ruang istirahat dapat menyulitkan mereka.
Informasi suara perlu tersedia bagi pengguna dengan gangguan penglihatan. Papan tulisan berukuran besar membantu penumpang dengan kemampuan melihat terbatas.
KAI juga perlu menempatkan petugas pada kedua ujung penghubung, terutama selama masa peralihan.
Antrean Gerbang Menjadi Ujian Pertama
Ketika sistem mulai berjalan, perhatian utama akan tertuju pada kemampuan gerbang BNI City menampung lonjakan pengguna.
Pada pagi hari, penumpang datang dalam kelompok besar menjelang jam kerja. Pada sore hari, arus berbalik ketika pekerja meninggalkan kawasan pusat bisnis.
Jumlah gerbang perlu disesuaikan dengan beban gabungan kedua stasiun. Gerbang keluar juga harus cukup banyak agar penumpang tidak menumpuk hingga tangga atau peron.
Pengelola dapat menerapkan pembagian gerbang berdasarkan arah arus. Beberapa gerbang digunakan khusus masuk pada pagi hari, lalu diubah menjadi jalur keluar pada sore hari.
Petugas perlu mengingatkan pengguna menyiapkan kartu sebelum mencapai mesin. Saldo minimum dan kondisi kartu juga sebaiknya diperiksa agar kegagalan tap tidak menghambat antrean.
Petunjuk Arah Harus Dibuat Sederhana
Kawasan Dukuh Atas memiliki banyak stasiun dan moda dengan nama yang hampir serupa. Terdapat Stasiun Karet, BNI City, Sudirman, MRT Dukuh Atas BNI, serta LRT Dukuh Atas.
Penumpang yang baru pertama datang mudah merasa bingung. Integrasi baru dapat menambah kebingungan jika papan petunjuk terlalu banyak menggunakan nama berbeda.
Penunjuk arah sebaiknya menampilkan tujuan akhir, bukan hanya nama bangunan. Tulisan seperti KRL menuju Tanah Abang, Kereta Bandara, MRT, atau LRT akan lebih mudah dipahami.
Warna konsisten dapat membantu. Jalur KRL, kereta bandara, MRT, dan LRT sebaiknya memiliki warna yang berbeda sejak pintu masuk.
Peta kawasan perlu dipasang di beberapa titik. Informasi juga dapat tersedia melalui kode QR, tetapi papan fisik tetap diperlukan bagi pengguna tanpa telepon atau koneksi internet.
Masa Peralihan Berpotensi Menimbulkan Kebingungan
Perubahan kebiasaan perjalanan selalu membutuhkan waktu. Sebagian pengguna mungkin tetap mencoba masuk melalui gerbang lama karena belum mengetahui sistem baru.
Pada hari pertama, petugas perlu ditempatkan jauh sebelum pintu masuk. Pengumuman harus diberikan sejak jalan pendekat, bukan hanya setelah penumpang mencapai area stasiun.
KAI dapat memasang spanduk beberapa minggu sebelum pengoperasian. Informasi di dalam kereta juga diperlukan karena banyak penumpang mengetahui perubahan ketika sedang melakukan perjalanan.
Aplikasi C Access, media sosial KAI Commuter, dan layar digital stasiun dapat digunakan untuk menjelaskan alur baru.
Peta sederhana yang menunjukkan perjalanan dari Karet menuju BNI City akan lebih membantu dibandingkan pengumuman teks panjang.
Waktu Perjalanan Kereta Berpotensi Lebih Teratur
Salah satu tujuan integrasi adalah memperbaiki pengaturan operasi pada dua stasiun yang berjarak sangat dekat.
Jika seluruh layanan penumpang dipusatkan pada satu titik berhenti, kereta tidak perlu melakukan proses naik turun pada dua lokasi berurutan. Hal tersebut berpotensi membantu menjaga waktu perjalanan.
Namun, KAI belum merinci perubahan jadwal yang akan diterapkan setelah integrasi. Karena itu, pengurangan waktu tempuh belum dapat dihitung secara pasti.
Manfaat baru akan terlihat setelah pola operasi diumumkan dan dijalankan. Waktu berhenti, kepadatan peron, serta kecepatan perpindahan penumpang menjadi penentu.
Pemusatan stasiun juga dapat mengurangi risiko kereta tertahan karena antrean masuk ke peron berikutnya. Akan tetapi, kapasitas BNI City harus cukup agar proses naik turun tidak berlangsung lebih lama.
Penumpang Perlu Mengubah Perhitungan Waktu Berangkat
Pengguna rutin Karet sebaiknya mulai menyiapkan perubahan kebiasaan. Jarak berjalan menuju peron kemungkinan bertambah meski tersedia travelator.
Pada minggu pertama, datang 10 hingga 15 menit lebih awal dapat membantu. Penumpang memiliki waktu untuk mencari jalur, melihat papan informasi, dan menghadapi antrean yang belum stabil.
Titik bertemu dengan keluarga atau rekan juga perlu diubah. Sebutan bertemu di pintu Karet mungkin tidak lagi cukup jelas setelah area tersebut menjadi penghubung.
Pengguna ojek perlu memilih titik penurunan yang sesuai. Turun terlalu jauh dari pintu dapat menambah jarak berjalan.
Penumpang yang membawa koper menuju bandara sebaiknya memeriksa jalur lift dan ruang yang diperbolehkan untuk bagasi.
Integrasi Menjadi Bagian dari Penataan Transportasi Jakarta
Proyek Karet dan BNI City menunjukkan arah penataan stasiun yang tidak lagi berdiri sendiri. Satu kawasan dapat melayani beberapa moda melalui jalur pejalan kaki yang saling terhubung.
Tujuannya adalah membuat perpindahan tidak memerlukan kendaraan tambahan. Pengguna dapat turun dari KRL, berjalan menuju MRT, lalu melanjutkan perjalanan dalam satu kawasan.
Sistem seperti ini membutuhkan koordinasi antara KAI, KAI Commuter, pemerintah daerah, operator MRT, operator LRT, Transjakarta, dan pengelola kawasan.
Trotoar, penerangan, keamanan, drainase, serta ruang penjemputan harus dibangun sebagai satu kesatuan. Stasiun yang baik tidak hanya terlihat dari peronnya, tetapi juga dari perjalanan pengguna sejak meninggalkan jalan.
Integrasi Karet dan BNI City akan menjadi ujian penting karena kawasan tersebut melayani hampir 10 juta aktivitas penumpang hanya dalam enam bulan pertama 2026.
Ketika mulai beroperasi pada 28 September 2026, pengguna akan menghadapi tiga perubahan utama. Gerbang masuk dan keluar dipusatkan di BNI City, kawasan Karet berubah menjadi akses penghubung, dan perpindahan dibantu travelator berpendingin udara.
Keberhasilan proyek akan ditentukan oleh kapasitas gerbang, kejernihan petunjuk, akses bagi kelompok rentan, penataan kendaraan, serta kemampuan pengelola menjaga pergerakan penumpang pada jam sibuk.
