Konten Tari di Kuil Jepang Picu Kritik, Etika Turis Asing Disorot Keinginan mendapatkan video menarik untuk media sosial kembali berbenturan dengan aturan kesopanan di tempat ibadah Jepang. Sekelompok wisatawan asing menuai kritik setelah merekam aksi menari di kawasan Hie Jinja, salah satu kuil Shinto terkenal yang berada di Chiyoda, Tokyo.
Rekaman tersebut memperlihatkan sejumlah orang menari di bawah deretan gerbang torii berwarna merah. Beberapa di antara mereka terlihat duduk di tangga dan menggunakan jalur menuju kuil sebagai lokasi pertunjukan. Video kemudian beredar luas dan memicu protes karena kawasan tersebut bukan sekadar tempat wisata, tetapi masih digunakan sebagai tempat beribadah.
Peristiwa itu sebenarnya diberitakan FNN Prime Online pada 25 Oktober 2024. Karena potongannya kembali mudah ditemukan dan dibagikan melalui media sosial, tanggal kejadian perlu disebut dengan jelas agar publik tidak menganggapnya sebagai insiden baru pada 2026. FNN melaporkan kelompok tersebut menerima kritik dari pengguna media sosial maupun warga yang dimintai tanggapan.
Perdebatan yang muncul masih relevan ketika jumlah wisatawan ke Jepang terus tinggi. Kamera telepon membuat hampir setiap pengunjung dapat menjadi pembuat konten, tetapi kemampuan merekam tidak berarti seluruh bagian destinasi dapat dipakai sebagai panggung.
Video Direkam di Jalur Torii Hie Jinja
Lokasi pembuatan video adalah jalur Inari di Hie Jinja, Tokyo. Kawasan tersebut terkenal karena memiliki rangkaian gerbang torii merah yang membentuk lorong di sepanjang tangga menuju kompleks kuil.
FNN melaporkan rombongan wisatawan asing terlihat terus menari di bawah torii. Mereka juga duduk di tangga sehingga aktivitas tersebut dinilai seperti menguasai sebagian jalur yang semestinya dapat digunakan pengunjung lain. Kritik kemudian bermunculan dengan alasan perilaku itu dianggap tidak menghormati kesucian area.
Hie Jinja memang menarik sebagai lokasi fotografi. Japan National Tourism Organization menjelaskan pintu masuk bagian barat kuil memiliki jalur yang melewati deretan torii merah. Letaknya di pusat Tokyo, tidak jauh dari kawasan pemerintahan Nagatacho dan Akasaka.
Keindahan visual inilah yang membuat banyak wisatawan tertarik membawa kamera. Namun, fungsi sebagai tempat ibadah tetap berjalan bersamaan dengan fungsi wisata. Orang dapat berfoto, tetapi perlu memperhatikan orang yang datang untuk berdoa dan aturan yang diterapkan pengelola.
Warga Jepang Meminta Wisatawan Lebih Menghormati Kuil
Reaksi terhadap video tidak hanya muncul melalui komentar anonim. FNN mewawancarai warga mengenai perilaku kelompok tersebut. Sejumlah orang mengingatkan bahwa torii merupakan bagian sakral dari kuil dan wisatawan sebaiknya mempelajari kebiasaan setempat sebelum datang.
Ada pula warga yang menyayangkan tindakan itu dan meminta pengunjung menunjukkan penghormatan lebih besar saat berada di tempat ibadah.
Kritik tersebut tidak berarti wisatawan asing dilarang memasuki kuil Shinto. Sebaliknya, banyak kuil Jepang terbuka kepada wisatawan dan menyediakan informasi kunjungan dalam berbagai bahasa.
Persoalan berada pada perilaku. Mengambil beberapa foto berbeda dari menduduki jalur dalam waktu panjang untuk membuat video pertunjukan. Begitu pula berdiri di dekat torii untuk dokumentasi pribadi berbeda dari menjadikannya alat olahraga atau properti produksi.
Menurut penulis, persoalan sebenarnya bukan kamera atau media sosial. Masalah muncul ketika keinginan mendapatkan tayangan menarik membuat fungsi utama tempat yang dikunjungi menjadi terlupakan.
Hie Jinja Meminta Pengunjung Tidak Menguasai Jalur untuk Berfoto
Pihak Hie Jinja telah memiliki perhatian khusus terhadap aktivitas fotografi. Dalam laporan FNN, pengelola disebut meminta pengunjung tidak bersandar pada torii dan tidak melakukan pengambilan gambar terlalu lama di jalur Inari karena area tersebut merupakan tempat suci.
Aturan semacam itu mudah dipahami bila melihat bentuk lokasinya. Jalur torii berada di tangga yang tidak terlalu lebar. Apabila sekelompok orang berhenti dalam waktu panjang untuk mendapatkan pengambilan gambar berulang, pengunjung lain harus menunggu atau melewati ruang yang semakin sempit.
Kegiatan produksi video juga biasanya membutuhkan lebih banyak gerakan daripada foto biasa. Pembuat konten dapat mengulang adegan beberapa kali, berpindah posisi, menempatkan kamera, atau meminta orang lain menjauh dari bingkai.
Pada tempat wisata komersial, kegiatan semacam itu mungkin dapat dilakukan selama mengikuti aturan pengelola. Pada sebuah kuil, kepentingan orang yang hendak beribadah harus ditempatkan lebih dahulu.
Torii Bukan Sekadar Latar Foto Berwarna Merah
Bagi wisatawan yang hanya mengenal Jepang melalui foto perjalanan, torii sering terlihat sebagai unsur arsitektur yang sangat menarik. Bentuknya sederhana, tetapi warna merah terang menghasilkan komposisi foto yang mudah dikenali.
Dalam tradisi Shinto, torii menandai peralihan menuju kawasan kuil. JNTO menjelaskan gerbang tersebut menjadi batas simbolis antara ruang biasa dengan area suci. Kebiasaan yang dianjurkan adalah memberikan sedikit penghormatan sebelum melewatinya dan berjalan di sisi jalur, bukan tepat di tengah.
Hie Jinja memiliki nilai sejarah yang panjang. JNTO mencatat asal kuil tersebut dapat ditelusuri hingga sebelum periode modern Tokyo. Tokugawa Ieyasu kemudian menjadikannya sebagai salah satu kuil penting yang berkaitan dengan Edo. Hie Jinja juga dikenal melalui Sanno Matsuri, salah satu festival utama Tokyo.
Keberadaan torii dalam lokasi semacam itu karena itu tidak dapat diperlakukan seperti dekorasi buatan di pusat hiburan.
Tempat Wisata Tetap Berfungsi sebagai Tempat Ibadah
Wisatawan sering menghadapi situasi unik ketika mengunjungi bangunan keagamaan terkenal. Sebuah tempat dapat muncul di brosur pariwisata, masuk daftar destinasi populer, dan menerima ribuan kamera setiap hari, tetapi pada saat yang sama tetap digunakan masyarakat untuk berdoa.
Situasi tersebut terdapat di berbagai negara. Masjid, gereja, pura, kuil Buddha, dan kuil Shinto dapat menjadi peninggalan sejarah sekaligus tempat ibadah aktif.
Pengunjung perlu membedakan antara boleh masuk dengan bebas melakukan apa saja. Izin kunjungan diberikan dengan harapan tamu mengikuti ketentuan lokasi.
JNTO menyarankan wisatawan memperhatikan papan yang melarang fotografi pada bagian tertentu. Beberapa bangunan juga meminta pengunjung melepas sepatu atau menjaga suara tetap rendah.
Bukan Pertama Kali Torii Dipakai untuk Konten Kontroversial
Kasus Hie Jinja muncul tidak lama setelah video lain mengenai wisatawan asing menuai kecaman di Jepang. FNN saat itu menyinggung aksi dua perempuan asal Chile yang menggunakan torii untuk melakukan gerakan seperti latihan fisik.
Salah seorang perempuan terlihat bergelantungan pada struktur gerbang. Rekaman tersebut ikut menjadi pembicaraan di media Chile setelah kritik meluas.
Pada November 2024, kasus lain bahkan masuk ke proses hukum setelah seorang wisatawan Amerika Serikat dituduh menggoreskan huruf pada gerbang kayu di Meiji Jingu, Tokyo. Polisi kemudian menangkap pria tersebut atas dugaan perusakan properti.
Kasus itu berbeda dari sekadar membuat video. Menggores bagian bangunan dapat menghasilkan kerusakan fisik, sedangkan pengambilan konten tanpa kerusakan belum tentu menjadi perkara pidana.
Perbedaan tersebut perlu dijaga agar setiap perilaku tidak langsung disebut sebagai kejahatan. Ada tindakan yang terutama berkaitan dengan kesopanan, ada pelanggaran aturan pengelola, dan ada pula perbuatan yang dapat masuk ranah hukum karena merusak properti.
Tidak Semua Pengambilan Foto Dilarang
Munculnya kritik terhadap pembuat konten tidak berarti wisatawan harus menyimpan kamera ketika memasuki kuil. Fotografi merupakan bagian normal dari perjalanan dan banyak lokasi keagamaan Jepang mengizinkannya pada area tertentu.
Pedoman resmi Meiji Jingu, misalnya, membolehkan pengunjung berada di kawasan kuil sambil tetap menetapkan sejumlah batas. Foto dan video tidak diperbolehkan di area utama tempat orang berdoa. Kegiatan promosi melalui foto atau video juga memerlukan izin, sementara aktivitas yang mengganggu tidak diperbolehkan.
Aturan setiap kuil dapat berbeda. Karena itu, papan informasi di lokasi mempunyai kedudukan lebih penting dibandingkan kebiasaan yang pernah ditemukan wisatawan di kuil lain.
Sebuah kuil mungkin membolehkan foto di halaman tetapi melarangnya di dalam bangunan. Tempat lain dapat menerima dokumentasi pribadi tetapi mensyaratkan izin bagi produksi komersial.
Perbedaan tujuan juga perlu diperhatikan. Seseorang yang mengambil satu foto keluarga tentu tidak dapat langsung disamakan dengan tim yang datang membawa tripod, lampu, kostum, dan melakukan pengambilan gambar berulang.
Membuat Konten Membutuhkan Kepekaan terhadap Pengunjung Lain
Media sosial telah mengubah cara orang bepergian. Sebagian wisatawan menyusun perjalanan berdasarkan lokasi yang terlihat menarik di TikTok, Instagram, YouTube, atau platform lain.
Masalah dapat terjadi ketika sebuah tempat dinilai hanya berdasarkan kemungkinan menghasilkan gambar. Tangga berubah menjadi panggung, jalan menjadi studio, dan orang lain dianggap sebagai gangguan dalam bingkai.
Di tempat ibadah, cara berpikir seperti itu mudah menimbulkan benturan. Orang yang sedang berdoa tidak datang untuk menjadi latar video wisatawan. Mereka juga tidak seharusnya diminta menunggu sampai sebuah tarian selesai direkam.
Pengambilan gambar sebaiknya dilakukan dalam waktu singkat. Apabila jalur mulai dipenuhi orang, pembuat konten dapat menunggu waktu yang lebih sepi atau memilih lokasi lain.
Kamera juga tidak seharusnya diarahkan terlalu dekat kepada orang yang sedang melakukan ritual tanpa izin. Dokumentasi bangunan dan dokumentasi aktivitas pribadi orang lain merupakan dua persoalan yang berbeda.
Tata Cara Masuk Kuil Sebenarnya Tidak Rumit
Wisatawan tidak harus memahami seluruh tradisi Shinto sebelum mengunjungi kuil. Beberapa kebiasaan dasar sudah cukup untuk menunjukkan penghormatan.
JNTO menjelaskan pengunjung biasanya memberikan sedikit penghormatan sebelum melewati torii. Di tempat penyucian, tangan dibersihkan sebelum menuju bangunan utama. Saat berada di tempat berdoa, tata cara umum pada kuil Shinto menggunakan dua kali membungkuk, dua kali tepuk tangan, kemudian satu kali membungkuk setelah doa.
Kesalahan kecil dalam tata cara tidak otomatis dianggap sebagai penghinaan. Wisatawan asing tentu dapat tidak mengetahui urutan ritual dengan sempurna.
Hal yang jauh lebih mudah diperhatikan adalah tidak berteriak, tidak merusak benda, tidak menghalangi jalan, tidak memasuki bagian yang ditutup, serta mengikuti larangan fotografi.
Dengan pedoman sederhana tersebut, seseorang tetap dapat menikmati perjalanan tanpa merasa takut melakukan kesalahan.
Media Sosial Membuat Kesalahan Menjadi Jauh Lebih Terlihat
Perilaku seorang wisatawan dahulu mungkin hanya disaksikan beberapa orang di lokasi. Sekarang sebuah video dapat tersebar ke berbagai negara hanya beberapa jam setelah diunggah.
Ironisnya, pembuat konten sering menjadi pihak yang menyediakan bukti atas tindakannya sendiri. Video dibuat untuk memperoleh perhatian, lalu perhatian yang datang justru berbentuk kritik.
Kasus di Hie Jinja memperlihatkan keadaan tersebut. Video tarian menjadi bahan pemberitaan bukan karena ada laporan mengenai pertunjukan besar, tetapi karena rekamannya tersebar dan dinilai tidak sesuai dengan tempat pengambilan gambar.
Kelompok yang muncul dalam rekaman juga dilaporkan FNN pernah membuat video tarian di lokasi lain. Media tersebut mencoba menghubungi mereka untuk meminta tanggapan, tetapi hingga berita ditayangkan belum memperoleh jawaban.
Artinya, versi langsung dari kelompok tersebut tidak tersedia dalam laporan utama. Karena itu, alasan mereka memilih Hie Jinja sebagai lokasi atau apakah mereka memahami aturan kuil tidak dapat dipastikan.
Menurut penulis, semakin besar jangkauan seorang pembuat konten, semakin besar pula kebutuhan untuk memeriksa aturan lokasi sebelum kamera dinyalakan. Beberapa menit untuk mencari informasi dapat mencegah persoalan yang bertahan jauh lebih lama daripada videonya.
Kritik Tidak Boleh Berubah Menjadi Kebencian kepada Semua Turis Asing
Kasus wisatawan bermasalah sering memunculkan generalisasi. Satu video dapat dipakai sebagai alasan untuk menyalahkan seluruh pengunjung dari luar Jepang.
Cara tersebut tidak adil. Jutaan wisatawan asing datang setiap tahun tanpa melakukan pelanggaran. Banyak di antara mereka mempelajari tata cara lokal, mengikuti papan petunjuk, membeli produk masyarakat, dan memperlakukan tempat ibadah dengan hormat.
Persoalan lebih tepat diarahkan kepada tindakan tertentu daripada kebangsaan seseorang. Bahkan warga Jepang sendiri dapat melakukan perilaku yang dianggap tidak pantas di ruang publik atau tempat suci.
Pendekatan ini penting karena kritik terhadap perilaku dan penolakan terhadap suatu kelompok merupakan dua hal berbeda. Aturan kunjungan dapat ditegakkan kepada siapa saja tanpa membedakan paspor.
Pengelola destinasi juga dapat membantu dengan menyediakan papan dalam beberapa bahasa. Informasi yang jelas mengenai area foto, batas waktu pengambilan gambar, larangan tripod, dan jalur ibadah membuat wisatawan lebih mudah menyesuaikan diri.
Hie Jinja Tetap Menjadi Destinasi Penting di Tengah Tokyo
Di luar kontroversi video tersebut, Hie Jinja tetap menjadi salah satu kuil besar yang menarik dikunjungi di pusat Tokyo. Lokasinya berada di kawasan Nagatacho, tidak jauh dari gedung pemerintahan dan lingkungan bisnis Akasaka.
JNTO mencatat kuil tersebut mempunyai hubungan kuat dengan keluarga Tokugawa dan pernah menjadi kuil penjaga Edo. Festival Sanno yang digelar di sana juga termasuk perayaan penting di Tokyo.
Deretan torii di jalur barat menjadi bagian yang paling mudah dikenali wisatawan. Kontras warna merah dengan gedung modern di sekitarnya membuat kawasan tersebut sangat fotogenik.
Pemerintah Metropolitan Tokyo melalui panduan wisatanya juga menyebut Hie Jinja sebagai kuil yang dihormati masyarakat Tokyo dan terkenal melalui Sanno Festival. Lokasinya dapat dicapai dalam beberapa menit berjalan kaki dari sejumlah stasiun kereta bawah tanah.
Keindahan itu tetap dapat dinikmati tanpa harus menutup jalur atau menyentuh struktur kuil. Foto yang bagus tidak membutuhkan tindakan ekstrem apabila pengunjung bersedia menunggu dan memperhatikan keadaan sekitar.
Wisatawan Perlu Membedakan Dokumentasi dan Produksi Konten
Dokumentasi perjalanan pada dasarnya bertujuan menyimpan kenangan. Produksi konten dapat mempunyai kebutuhan berbeda karena pembuatnya mengejar hasil yang nantinya disebarkan, dimonetisasi, atau digunakan untuk kepentingan promosi.
Begitu kegiatan berkembang menjadi produksi yang lebih besar, izin semakin penting. Tripod dapat menghalangi jalur. Lampu dapat mengganggu orang lain. Pengambilan gambar berulang dapat membuat satu titik dikuasai terlalu lama.
Pedoman Meiji Jingu secara tegas menyatakan video dan fotografi promosi membutuhkan izin. Kuil tersebut juga melarang aktivitas olahraga dan perilaku yang mengganggu di area suci.
Walaupun ketentuan satu kuil tidak otomatis berlaku di tempat lain, prinsipnya dapat menjadi pegangan. Wisatawan harus membaca aturan lokasi yang sedang dikunjungi, bukan menganggap seluruh kuil Jepang mempunyai kebijakan sama.
Konten perjalanan tetap dapat menarik tanpa mengabaikan fungsi tempat. Membuka video dengan sejarah kuil, memperlihatkan tata cara berkunjung, atau menjelaskan aturan setempat bahkan dapat memberi informasi lebih bernilai dibandingkan aksi yang hanya dibuat untuk mengejar perhatian.
Kasus Hie Jinja memperlihatkan bagaimana satu rekaman dapat mengubah perjalanan wisata menjadi perdebatan luas mengenai kesopanan. Deretan torii yang menjadi alasan orang datang untuk berfoto tetap merupakan bagian dari kawasan ibadah. Bagi wisatawan, batas yang perlu dijaga sederhana, yakni menikmati keindahan tempat tanpa mengambil ruang dari orang yang datang untuk menggunakan tempat tersebut sesuai tujuan utamanya.






